Pagi itu Dara berdiri menghadap ke ufuk Timur melihat matahari yang terbit menyinari dunia. Matanya terpukau, lidahnya keluh, bayangannya megacu kepada kebesaran Sang Pencipta. Melihat segala nikmatnya yang Ia tata rapi dalam bumi ini "Subhanallah" tak henti di sebutnya dalam hati. Tak terasa air mata Dara menetes, lidahnya masih keluh, badannya melemas, dan bayangan kembali kepada titik kehidupan jahiliyahnya. Begitu banyak dosa yang Ia rajut dalam kehidupannya. Menata segenap kisah buruk di mata-mata manusia lain. Sekarang, Dara ingin merajut asanya. Merajut kisah indah menjemput hidayah. Walau Dara tahu semua itu tak mudah. Tapi, Ia berprinsip tak ada kebahagiaan tanpa perjuangan. Dara merajut kisah-kisah indahnya tanpa mempedulikan mata-mata manusia lain ingin menilainya sepertia apa.
Kurang lebih dua tahun Dara merasakan pasang surut cobaan dalam hidupnya semenjak Ia bertekad untuk merajut asa yang indah. Sampai akhirnya Ia jatuh cinta pada seorang pria yang baik agamnya. Cintanya kepada sosok lelaki itu membuatnya tambah bertekad untuk lebih bagus lagi merajut kehidupan yang Indah. Inilah yang namanya Cinta. Cinta yang membawanya dalam kehidupan yang lebih baik. Walau cintanya itu tak pernah Ia utarakan kepada siapapun. Cinta diamnya yang Ia rajut. Berharap Sang Pencipta menyatukan dirinya kelak.
#By:SitiFujiAulianti:D
Kurang lebih dua tahun Dara merasakan pasang surut cobaan dalam hidupnya semenjak Ia bertekad untuk merajut asa yang indah. Sampai akhirnya Ia jatuh cinta pada seorang pria yang baik agamnya. Cintanya kepada sosok lelaki itu membuatnya tambah bertekad untuk lebih bagus lagi merajut kehidupan yang Indah. Inilah yang namanya Cinta. Cinta yang membawanya dalam kehidupan yang lebih baik. Walau cintanya itu tak pernah Ia utarakan kepada siapapun. Cinta diamnya yang Ia rajut. Berharap Sang Pencipta menyatukan dirinya kelak.
#By:SitiFujiAulianti:D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar