Cahaya membiasi jendela kamarku, merasuki nadi pembuluh darah dan asaku. Sejak lama aku berdiam membisu dan belajar untuk mendengarkan. mendengarkan suara-suara tersembunyi dari klisenya rona wajah orang-orang yang dihadapkan akan kepalsuan.
Terlalu banyak kelulah kesahku yang tak berpeluh, terlalu banyak tangis yang tak dpat terkuak. Dalam tawa aku berdiam, dalam senyum aku membisu. Tak satupun yang mampu kalian lihat dengan jelas tanpa refleksinya.
Aku hanya mampu bercerita, mendengar, dan terdiam. Mungkin hanya itu aksi di atas awan yang mampu membuatku melayang. Lantas benarkah aku terbang menuju negeri impian yang tak pernah ada? kita tidak pernah benar-benar terbang. Namun ku pastikan aku pernah melayang. Melayang karena terjatuh dari ketinggian kemudian terpental ke dalam lubang hitam berdindingkan kerapuhan.
Andai agresiku mampu membuncah dan tersungkur. Andai aku mampu mengenal dengan baik suara hati itu. Bahkan andai pun berandai akan bayang ilusi di masa lampau dan mendatang. Aku memang benci menangis karena aku akan terlihat lemah di mata mereka, tapi titik-titk air yang menghanyutkan pipiku beririgan dengan hatiku tetapi bukan jiwaku. Jiwaku telah lama tersakiti sehingga pergi, menghilang, dan masih mencariuntuk pulang membawa keberanian yang telah lama ia jadikan teman sepanjang perjalanan. Kini bekalku hanya kejujuran yang bahkan orang lain tak bisa raba, karena visiku kebarinian di tengah kejujuran. Kini kejujuran telah kehilangan sahabat keberaniannya, dan bagaikan sepasang merpati ia tak mampu berdiri tegak dan menghalalkan kemunafikan lagi.
Kawanku, jangan biarkan keberanian pergi terlalu jauh. Karena suatu saat nanti akan ada banyak hal yang akan kau hadapi, bahkan kejujuran pun membutuhkan keberanian untuk membuatnya terungkap bukan diam dan berdebu. Jangan sampai seperti aku, penderitaan kusta dan dusta yang berdiam diri menunggu nadir menjemput hingga kepangkuan ilahi.
-By:Lisa Widyastuti-
Terlalu banyak kelulah kesahku yang tak berpeluh, terlalu banyak tangis yang tak dpat terkuak. Dalam tawa aku berdiam, dalam senyum aku membisu. Tak satupun yang mampu kalian lihat dengan jelas tanpa refleksinya.
Aku hanya mampu bercerita, mendengar, dan terdiam. Mungkin hanya itu aksi di atas awan yang mampu membuatku melayang. Lantas benarkah aku terbang menuju negeri impian yang tak pernah ada? kita tidak pernah benar-benar terbang. Namun ku pastikan aku pernah melayang. Melayang karena terjatuh dari ketinggian kemudian terpental ke dalam lubang hitam berdindingkan kerapuhan.
Andai agresiku mampu membuncah dan tersungkur. Andai aku mampu mengenal dengan baik suara hati itu. Bahkan andai pun berandai akan bayang ilusi di masa lampau dan mendatang. Aku memang benci menangis karena aku akan terlihat lemah di mata mereka, tapi titik-titk air yang menghanyutkan pipiku beririgan dengan hatiku tetapi bukan jiwaku. Jiwaku telah lama tersakiti sehingga pergi, menghilang, dan masih mencariuntuk pulang membawa keberanian yang telah lama ia jadikan teman sepanjang perjalanan. Kini bekalku hanya kejujuran yang bahkan orang lain tak bisa raba, karena visiku kebarinian di tengah kejujuran. Kini kejujuran telah kehilangan sahabat keberaniannya, dan bagaikan sepasang merpati ia tak mampu berdiri tegak dan menghalalkan kemunafikan lagi.
Kawanku, jangan biarkan keberanian pergi terlalu jauh. Karena suatu saat nanti akan ada banyak hal yang akan kau hadapi, bahkan kejujuran pun membutuhkan keberanian untuk membuatnya terungkap bukan diam dan berdebu. Jangan sampai seperti aku, penderitaan kusta dan dusta yang berdiam diri menunggu nadir menjemput hingga kepangkuan ilahi.
-By:Lisa Widyastuti-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar