Pages

MAKALAH - ARKEOLOGI BULUKUMBA

Senin, 25 Maret 2019


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Sulawesi Selatan sebagai Bandar Niaga terbesar, tentu banyak para pedagang dan pebisnis yang tertarik untuk datang dan melakukan transaksi perdagangan di kawasan Sulawesi Selatan. Kedatangan para pedagang yang beragama Islam, kemudian mempercepat proses Islamisasi di pusat-pusat kerajaan di Sulawesi Selatan. Namun dalam literature sejarah di dapatkan informasi, bahwa secara khusus Islamisasi di Sulawesi Selatan tidak dapat dipisahkan dari peran utama tiga muballig yang ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam di daerah ini, yaitu dari Minang Kabau Sumatera Barat yang terkenal di kalangan masyarakat Bugis “Datu Tellue”, ialah Abdul Kadir Datuk Tunggal dengan panggilan Datuk ri Bandang, Sulung Sulaeman yang digelar Datuk Patimang, dan Khatib Bungsu yang digelar Datuk ri Tiro. Ketiga ulama ini berbagi tugas wilayah dalam melakukan kegiatan penyebaran Islam. Datuk ri Bandang bertugas di Kerajaan kembar Gowa-Tallo, Datuk Patimang bertugas di Kerajaan Luwu, dan Datuk ri Tiro bertugas di daerah Tiro Bulukumba.
Penerimaan Islam sebagai agama dan peradaban di kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan memperlihatkan pola “top down”, yaitu: Islam pertama-tama diterima langsung oleh Raja, kemudian turun ke bawah yaitu kepada rakyat.


Artinya setelah raja menerima agama Islam dan menjadikannya sebagai agama Negara, maka otomatis seluruh rakyat kerajaan mengikuti raja memeluk agama Islam. Islam diakui secara resmi pada abad ke-17 (Paramita, 2015, hal. 2).
Dalam sejarah penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan tepatnya di daerah Bulukumba, Dato Tiro menjadi tokoh sentral dalam penyebaran agama Islam di daerah ini. Dato Tiro yang mempunyai nama asli Al Maulana Khatib Bungsu datang ke Sulawesi Selatan bersama dua orang sahabatnya yaitu: Khatib Makmur yang lebih dikenal dengan nama Dato ri Bandang dan Khatib Sulaiman yang lebih dikenal dengan Dato Patimang. Pada tahun 1604 M, Al Maulana Khatib Bungsu menyiarkan agama Islam di Tiro (Bulukumba) dan sekitarnya. Adapun raja yang pertama diislamkan dalam kerajaan Tiro adalah Launru Daeng Biasa yang bergelar Karaeng Ambibia. Launru Daeng Biasa adalah cucu ke empat dari Karaeng Samparaja Daeng Malaja yang bergelar Karaeng Sapo Batu yang merupakan raja pertama di Tiro.
Langkah awal dan utama untuk penyebaran sebuah agama di suatu daerah tertentu biasanya dimulai dengan mengajak raja mereka untuk memeluk agama Islam terlebih dahulu, apabila rajanya sudah memeluk agama Islam maka rakyatnya akan dengan mudah diajak untuk menganut agama tersebut pula. Dato Tiro awalnya mengundang Launru Daeng Biasa untuk berdialog, namun ajakan Dato Tiro ini ditolak oleh Launru Daeng Biasa karena beliau merasa sebagai penguasa tertinggi



dan pemilik kedaulatan di daerah tersebut.  Akhirnya dengan rendah hati Dato Tiro sendiri yang kemudian datang ke tempat kediaman raja Launru Daeng Biasa dan sekaligus menyampaikan tujuan kedatangannya. Dato Tiro disambut baik oleh raja Launru Daeng Biasa, dan selanjutnya Dato Tiro memberikan penjelasan tentang kebenaran ajaran Islam yang dibawanya dan bersumber dari Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
 Pada awalnya raja Launru daeng Biasa tidak mau meninggalkan faham kepercayaan yang diturunkan oleh pandahulunya dan sudah mendarah daging pada diri masyarakatnya. Namun karena kegigihan Dato Tiro memperkenalkan agama Islam dan perlahan-lahan raja Launru Daeng Biasa menemukan kebenaran di dalam ajaran agama Islam tersebut maka pada akhirnya dapat menerima agama Islam dan menganutnya. Selanjutnya raja Launru Daeng Biasa mengislamkan istrinya kemudian kerabatnya bahkan seluruh hadat dan rakyat kerajaan Tiro dan sekitarnya. ( Ijan suryadi, 2016).
Proses tersebut menjadi bukti proses islamisasi di daerah Bulukumba. Bukan hanya itu, hal tersebut dapat dilihat dengan banyaknya situs, yang dimana situs tersebut berisi makam yang bercorak islam dengan paduan peninggalan-peninggalan Megalitik. Alasan melakukan atau mengambil data di daerah Bulukumba yaitu tinggalan-tinggalan atau makam yang terdapat didaerah tersebut memiliki bentuk yang menarik, dimana terdapat makam yang nisannya  berbentuk



menhir menhir ini seperti yang diketahui merupakan salah satu tinggalan arkeologi pada zaman batu besar atau zaman megalitik. Hal inilah yang membuat peneliti tertarik untuk menulis tentang beberapa makam Islam di Bulukumba.
1.2     Rumusan Masalah
Jelaskan tinggalan arkeologi yang terdapat di Bulukumba?
1.3     Tujuan dan manfaat penelitian
Adapun tujuan dilakukannya penelitian tersebut diantaranya:
-         Mengetahui tinggalan Arkeologi Islam di Bulukumba
-         Mengetahui jenis makam, nisan serta jirat yang terdapat pada makam
-         Mengetahui perbedaan makam-makam tua dan makam baru
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini:
o        Memberi wawasan seputar tinggalan arkeologi Islam di Bulukumba
o        Memberi wawasan tentang jenis makam, nisan, dan jirat.
o        Memberi pengetahuan bagaimana membedakan makam tua dan makam baru
1.4     Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan beberapa metode diantaranya:



1.4.1.1           Studi pustaka
Studi pustaka dilakukan sebelum melakukan penelitian. Dalam studi pustaka peneliti mencari literature seputar tinggalan arkeologi di bulukumba sebagai data awal ke lapangan.  Dengan cara membaca referensi-referensi di internet.
1.4.1.2           Wawancara
Wawancara dilakukan setelah sampai pada sebuah situs. Wawancara ini dilakukan untuk memperkuat data yang telah di deskripsikan. informan yang dibutuhkan yaitu penjaga situs, tokoh-tokoh adat disekitar situs, serta masyarakat yang mengetahui tentang situs tersebut.
1.4.3 Deskripsi
Pendeskripsian dimulai dengan mendeskripsikan lingkungan, situs, dan temuannya. Dalam pendeskripsian lingkungan, yang dijelaskan yaitu letak astronomis,
administratif, geografis, dan vegetasinya. Adapun cara mendeskripsikan suatu situs yaitu dijelaskan kondisi sebuah situs, letak temuan, dan konsentrasi temuan. Dan cara menjelaskan atau mendeskripsikan sebuah temuan yaitu berdasarkan dimensi bentuk, warna, ukuran, bahan, dan ragam hiasnya.
1.4.1.3           Foto Arkeologi


Foto arkeologi merupakan salah satu metode penelitian yang dilakukan untuk memperkuat suatu penelitian dalam bentuk gambar. Foto arkeologi dilakukan dengan cara memberi skala pada setiap pengambilan gambar. Selain itu dilakukan juga sketsa makam dalam hal ini, jirat, nisan serta gunungan makam. Sketsa dilakukan hanya pada dua situs sebab dua situs tersebut berada dalam kawasan adat Kajang dimana dilarang mengambil potret/gambar apapun didalam.














Bab 2
Profil Wilayah
2.1. Kabupaten Bulukumba












Gambar 01. Peta Administratif Kabupaten Bulukumba.
2.2  Profil Wilayah
                      Kabupaten Bulukumba adalah salah satu daerah tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di kota Bulukumba. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.154,67 km² dan berpenduduk sebanyak 394.757 jiwa (berdasarkan sensus penduduk 2010).


Kabupaten Bulukumba mempunyai 10 kecamatan, 27 kelurahan, serta 109 desa. Secara astronomi Bulukumba terletak pada titik koordinat antara 5° 20" samapi 5° 40" LS dan 119° 50" sampai 120° 28" BT.  Batas wilayah Kabupaten Bulukumba sebelah utara berbatasan dengan kab. Sinjai, sebelah selatan berbatasan dengan laut Flores, sebelah timur berbatasan dengan teluk Bone, sebelah barat berbatasan dengan Bantaeng.
          Secara kewilayahan, kabupaten Bulukumba berada pada kondisi 4 dimensi yakni dataran tinggi pada kaki gunung Bawakaraeng-Lompobattang, dataran rendah, pantai dan laut lepas. Kabupaten Bulukumba terletak pada ujung bagian selatan ibukota provinsi Sulawesi Selatan, terkenal dengan industri perahu Phinisi yang banyak memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Awal terbentuknya kabupaten bulukumba hanya terdiri atas tujuh kecamatan yaitu: ujungbulu, gangking, bulukumpa, bontobahari, bontotiro, kajang, dan herlang. Tetapi beberapa kecamatan kemudian dimekarkan dan kini “butta panrita lopi” sudah terdiri atas 10 kecamatan yaitu: Kecamatan Ujung Bulu (Ibukota Kabupaten), Kecamatan Gantarang, Kecamatan Kindang, Kecamatan Rilau Ale, Kecamatan Bulukmpa, Kecamtan Ujungloe, Kecamatn Bontobahari, Kecamatn Bontotiro, Kecamatan Kajang, Kecamatan Herlang. Dari 10 kecamatan tersebut, tujuh diantaranya merupakan daerah pesisir sebagai sentra pengembangan parawisata dan perikanan



yaitu Kecamatan Ujungbulu, Kecamatan Ujung Loe, Kecamatan Bontobahari, Kecamatan Bontotiro, Kecamatan Kajang Dan Kecamatn Herlang. Tiga kecamatan lainnya tergolong sentra penegmbangan pertanian dan perkebunan yaitu Kecamatan Kindang, Kecamatan Rilau Ale Dan Kecamatan Bulukumpa.
2.2.1. Sejarah Singkat
          Mitologi penamaan bulukmba konon bersumber dari dua kata dalam bahasa bugis yaitu buluku dan mupa yang dalam bahasa Indonesia berarti masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya. Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke-17 M ketika terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar di Sulawesi yaitu kerajaan gowa dan kerajaan bone. Di pesisir pantai yang bernama tana kongkong, disitulah utusan raja Gowa dan raja Bone bertemu, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah pengaruh kerajaan masing-masing.
Bangkek buki (secara harafiah berarti kaki bukit) yang merupakan barisan lereng bukit dari gunung lompobattang dikalim olwh pihak kerajaan gowa sebagai batasan wilayah kekuasaan mulai dari kindang sampai wilayah bagian timur. Namun pihak kerajaan Bone bersikeras mempertahankan kekuasannya mulai dari barat samapai ke selatan.berawal dari peristiwa tersebut kemudian tercetus kaliamat dalam bahasa bugis bulu kumpa yang kemudian pada tingkatan dialek tertentu mengalami perubahan proses bunyi menjadi Bulukumba. Konon sejak itulah nama Bulukumba mulai ada dan hingga saat ini menjadi sebuah kabupaten.


 Peresmian Bulukumba menjadi sebuah nama kabupaten dimulai dari terbitnya undang-undang nomor 29 tahun 1959, tentang pembentukan daerah-daerah tingkat II di Sulawesi yang ditindak lanjuti dengan peraturan daerah Kabupaten Bulukumba nomor 5 tahun 1978, tentang lambing daerah.
Akhirnya setelah dilakukan seminar seharipada tanggal 28 maret 1994 dengan narasumber Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada maka ditetapkanlah hari jadi Kabupaten Bulukumba yaitu tanggal 4 Febuari 1960 melalui peraturan daerah nomor 13 tahun 1994.
Secara yuridis formal Kabupaten Bulukumba resmi menjadi daerah tingkat II setelah ditetapkan lambang daerah Kabupaten Bulukumba oleh DPRD Kabupaten Bulukumba pada tanggal 4 Februari 1960 dan selanjutnya dilakukan pelantikan bupati pertama yaitu Andi Patarai pada tanggal 12 Februari 1960.
Paradigma kesejarahan, kebudayaan dan keagamaan memberikan nuansa moralitas dalam sistem pemerintah yang pada tatanan tertentu menjadi etika bagi struktur kehidupan masyarakat melalui “mall’sipareppe Tallang sipahu.” Ungkapan yang mencerminkan perpaduan dari dua dialeek bahas Bugis–Makassar tersebut merupakan gambaran sikap batin masyarakat Bulukumba untukmengemban amanat persatuan di dalam mewujudkan keselamatan bersama demi terciptanya tujuan pembangunan lahir dan batin, material dan spiritual, dunia dan akhirat.


Nuansa moralitas ini pula yang mendasari lahirnya slogan pembanguan Bulukumba berlayar yang mulai disosialisasikan pada bulan September 1994 dan disepakati penggunannya pada tahun 1996. Konsep berlayar sebagai moral pembangunan lahir batin mengandung filosofi yang cukup dalam serta memiliki kaitan kesejahteraan, kebudayaan dan keagamaan dengan masyarakat Bulukumba.
Perlawanan rakyat Bulukumba terhadap kolonial Belanda dan Jepang menjelang proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 diawali dengan terbentuknya “Barisan Merah Putih” dan “Laskar Brigade Pemberontakan Bulukumba Angkatan Rakyat”. Organisasi yang terkenal dalam sejarah perjuangan ini, melahirkan pejuang yang berani mati untuk kemerdekaan sebagai wujud tuntutan hak asasi manusia dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Masyarkat Bulukumba telah bersentuhan dengan ajaran agama Islam sejak awal abad ke-17 masehi, yang diperkirakan tahun 1605 masehi. Ajaran agama Islam ini dibawa oleh 3 ulama besar (Waliyullah) dari pulau Sumatera yang masing-masing bergelar Dato Tiro (Bulukumba), Dato ri Bandang (Makassar), dan Dato Patimang (Luwu). Ajaran agama Islam yang berintikan tasawwuf ini menumbuhkan kesadaran religius bagi penganutnya dan menggerakkan sikap keyakinan mereka untuk berlaku zuhut, suci lahir batin selamat dunia dan akhirat dalam kerangka tauhid Appasewang (mengEsakan Allah Subhanahu Wata’ala).



2.3 Keadaan Geografis
          Bulukumba berada di dataran rendah dengan kentinggian antara 0-25 meter diatas permukaan laut. Wilayah Kabiupaten Bulukumba lebih didominasi dengan keadaan topografi dataran rendah samapa bergelombang. Luas dataran rendah sampai bergelombang dan dataran tinggi hamper berimbang yaitu jika dataran rendah sampai bergelombang mencapai sekitar 50,28 % maka dataran tinggi mencapai 49,72 %.
          Kondisi tanah di Kabupaten Bulukumba didominasi oleh jenis tanah lotosol dan mediiteran. Secara spesifik terdiri atas tanah alluvial hidromorf coklat kelabu dengan bahan induk endapan liat pasir terdapat dipesisir pantai dan sebagian di daratan bagian utara. Sedangkan tanah regosol dan mediteran terdapat pada daerah-daerah bergelombang sampai berbukit di wilayah bagian barat.
          Sungai di Kabupaten Bulukumba ada 32 aliran yang terdiri dari sungai besar dan sungai kecil. Sungai-sungai ini mencapai panjang 603,50 km dan yang terpanjang adalah sungai sangkala yakni 63,30 km, sedangkan yang terpendek adalah sungai biroro yakni 1,50 km. sungai-sungai ini mampu mengairi lahan sawah seluas 23.365 Ha.
2.4 Sosial Budaya
Dari sisi budaya, kajang merupakan tempat yang berada di pedalaman secara turun menurun, tempatnya di Kecamatan Kajang, Kab. Bulukumba.


Daerah itu dianggap sebagai tanah warisan leluhur yang harus dijaga dan mereka menyebuutnya Tana Toa atau Kampung Toa. Masyarakat lebih kenal dengan nama Ammatoa Kajang. Ammatoa merupakan sebutan pemimpin adat mereka yang diperoleh secara turun menurun. Masyarakat ammatoa Kajang dibedakan menjadi dua krelompok, yaitu Rilalang Embayya atau yang lebih dikenal Kajang Dalam dan lebih dikenal dengan Kawasan Adat Ammatoa dan Ipantarang Embayya atuy lebih dikenal  dengan nama Kajang Luar. Kehidupan masyarakat Kajang sangat dipengaruhi oleh kepercayaan yang dianut yaitu yang bersumber dari pesan, petuah, amanah yang bersifat sacral dan hukumnya wajib untuk dilakasanakan.
Bagi masyarakat Kajang, ajaran para leluhur memiliki arti penting. Begitu pentingnya, mereka selalu menjalankan berbagai aktifitas kehidupan berdasarkan tradisi leluhur. Aturan adat dari sang leluhur juga selalu mengikat setiap kegiatan mereka.
Sekarang sudah banyak suku pedalaman yang meninggalkan ritual adatnya, suku Kajang suku yang sangat tidak bisa menerima perubahan  meskipun hanya sedikit. Mereka menganggap perubahan itu melanggar hukum adat yang dibuat oleh nenek moyang. Suku kajang merupakan suku yang unik, alami, sederhana, alam yang masih asri, hutan yang masih terjaga. Menjadikan kajang menjadi salah satu favorit wisata budaya.



Salah satunya yang membuat terhambatnya wisata kesana adalah ketakutan orang luar memasuki suku Kajang. Karena mendengar orang kajang sendiri, orang akan takut dengan dotinya, semacam sihir dan kekuatan gaib yang mematikan dan orang kajang tertutup dengan orang luar.





















                                                                                        


BAB III
HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN

3.1 Situs Bulu Karaeng Puang
3.1.1 Deskripsi Lingkungan

        Secara astronomis situs ini berada di titik koordinat 5o 19’ 21,3” LS dan 120o  0,7’ 21,5” BT. Desa Barugae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis, situs tersebut pada sisi utara berbatasan dengan desa Marowangeng. Sisi selatan berbatasan dengan desa Galuneuro. Sisi barat berbatasan dengan desa  Ta’gantung dan sisi timur berbatasan dengan desa Rakombong.
Vegetasi yang ada disekitar situs adalah pohon jeruk, pohon beringin, pohon salak, pohon coklat dan terdapat fauna ayam serta sapi yang dipelihara warga. Karaeng puang merupakan objek arkeologi tempat penyembahan masyarakat, baik itu masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang. Di sisi utara terdapat tower listrik, pepohonan dan pemukiman, sisi barat terdapat hutan, sisi selatan terdapat pepohonan, sisi timur terdapat bangunan dan juga pohon, sebelah barat semak belukar dan hutan.
 Foto 01 Lingkungan Karaeng Puang Sisi Utara (Dok: Imam 2018)



3.1.2 Deskripsi Situs
        Situs berada pada Desa Barugae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Kondisi situs sebelah tidak terawat karena terdapat banyak sampah plastik, dedaunan kering, ranting pepohonan kering dan semak belukar yang tumbuh di sekitar bangunan. Situs biasa diakses dengan mobil, motor dan berjalan kaki.
 Foto 02 Situs Karaeng Puang
 Tampak depan (Doc:Imam 2018)                   
Foto 03 Situs Karaeng Puang
Tampak Samping (Doc: Imam 2018)
         3.1.3 Deskripsi Temuan
Temuan berada didalam bangunan, dimana pondasi bangunan sisi utara dan selatan memiliki panjang 5,07 m dan pondasi sisi barat dan timur panjangnya 5,19 m serta pintu bangunan yang menghadap ke arah barat. Ventilasi bangunan terdapat banyak ikatan tali dari tali rafia, kantong plastik serta kain. Menurut juru kunci, bapak GN,KRP, P.Hakim, maksud dari ikatan tersebut sebagai tanda permohonan agar apa yang di inginkan terkabul.



 Pada bangunan situs sebelah barat objek terdapat dinding yang dilapisi tegel dan juga terdapat tiga buah piring plastik yang digunakan sebagai wadah untuk membakar lilin.
Objek ini berada dalam sebuah bangunan yang di dominasi dengan warna hijau. terdapat batu. Objek ini memiliki panjang 140 cm dan lebar 85 cm.
Foto 04 Temuan Situs Karaeng Puang (Doc: Imam 2018) 
Foto 05 Temuan Situs Karaeng Puang (Doc: Imam 2018)
3.2 Situs Kompleks Bengeng Lamppe Uttu’ Kampong Toa
3.2.1 Deskripsi Lingkungan
Kompleks makam Bengeng Lampe Uttu’ terletak pada koordinat 05o 19’ 55.5” LS dan 1200 7’ 59,7” BT. Secara administratif berada di Desa kampong Toa, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Sisi utara situs bersebelahan dengan desa Rakombong. Sisi selatan bersebelahan dengan desa Biroro. Sisi timur bersebelahan dengan desa Lonjong. Sisi barat bersebelahan dengan desa Jeri.
 Foto 06 Lingkungan Bengeng Lamppe Uttu’ Kampong Toa (Doc: Imam 2018)
3.2.2 Deskripsi Situs
Situs terletak pada Desa kampong Toa, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Sisi Utara terdapat hutan dan pemukiman,



sisi selatan  terdapat jalan setapak dan hutan, sisi timur terdapat hutan dan perkebunan. Situs ini memiliki permukaan yang landai di sisi timur. Kondisi situs tidak terawat karena disekitar makam ditumbuhi rerumputan, sampah plastik serta ranting-ranting pohon kering dan kotoran hewan karena situs digunakan oleh warga sekitar untuk pakan sapi. Konsentrasi temuan pada situs berupa makam yang tidak tersusun rapi. Vegetasi yang berada di sekitar situs adalah pohon pisang, pucuk merah, pohon bambu, pohon cengkeh, dan pepohonan yang tidak teridentifikasi.  Fauna yang terdapat pada sekitaran situs yaitu hewan ternak dan unggas Situs ini bisa diakses dengan mobil,motor dan berjalan kaki.
 Foto 07 Situs Bengeng Lamppe Uttu’ Kampong Toa (Doc: Imam 2018) 
Foto 08 Situs Bengeng Lamppe Uttu’ Kampong Toa (Doc: Imam 2018)
3.2.3 Deskripsi Temuan
Pada situs ini terdapat berbagai makam yang dapat dideskripsikan, namun hanya beberapa makam yang diambil untuk menjadi sampel. Antara lain:
1)Sampel 1
Nisannya terbuat dari batu sungai yang berada di tengah makam dengan panjang 37cm dan tinggi 20cm,


nisan dipenuhi oleh lumut. Jirat makam berundak dengan panjang 84 cm dan tinggi 8 cm. Makam memiliki gunungan dengan lebar 45cm, tinggi 35 cm yang dipenuhi lumut. Makam masih utuh dan menghadap utara dan selatan.

Foto 09 Sampel 1, Situs Lampe Uttu (Doc:imam 2018)

2)                                                                       Sampel 2
Nisannya makam berbentuk silindrik dengan panjang 42cm dan memiliki 8 sudut. Gunungan makam memiliki lebar 34cm dan tinggi 23cm serta tebal gunungannya 13cm. Jirat makam berundak dengan panjang 90cm.

Foto 10 Sampel 2,  Lampe Uttu (Doc:imam 2018)

3)                                                                       Sampel 3
Nisan makam berbentuk menhir dengan panjang 34cm, lebar 10cm, dan tebal 7cm. Jirad makam berundak, terdapat retakan diatas jirad dengan panjang 40cm, tinggi 19cm panjang 30cm dan tebal 13cm

Foto 11 Sampel 3, Lampe Uttu (Doc:imam 2018)

4)                                                                       Sampel 4
Nisan makam berberntuk pallus yang dipenuhi lumut dan memiliki tinggi 48cm, lebar 8cm dan panjang 20cm. Makam tersebut tidak memiliki jirat dan hanya terdapat jejeran batu pada pinggiran  makam.

Foto 12 Sampel 4,  Lampe Uttu (Doc:imam 2018)

5)                                                                       Sampel 5
Nisan makam berbentuk pipih yang berukuran panjang 89cm, lebar 7cm, tebal 14cm. Gunungan yang memiliki panjang 46cm. Panjang sekeliling makam 117cm. Panjang Jirat 56cm. Bahan yang digunakan adalah semen dan batu.

Foto 13 Sampel 5, Lampe Uttu (Doc:imam 2018)

3.3 Situs Batu Palantikang Salassae
3.3.1 Deskripsi Lingkungan
Secara astronomis situs ini terletak pada titik koordinat 5o 22’ 51,2” LS dan 120o 12’ 27,5” BT. Secara administratif berada di desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Sisi utara situs bersebelahan dengan desa Jojolo, sisi selatan bersebelahan dengan desa Bontoharu, sisi barat bersebelahan dengan desa Bulo-Bulo, sisi timur bersebelahan dengan desa Bontomangiring.

Foto 14 Lingkungan situs Palantikang Sisi Timur (Doc: Monira 2018)

3.3.2 Deskripsi Situs
Situs ini terletak pada Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Pada sisi utara terdapat kebun dan jalan setapak, sisi barat terdapat rumah panggung yang sudah tidak utuh, sisi selatan terdapat hutan dan jalan setapak, sisi timur terdapat hutan dan kebun karet.
Kondisi situs tidak terawat karena di sisi timur bangunan terdapat gundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan liar serta sisi barat tepatnya di belakang bangunan terdapat tanaman liar yang tumbuh lebat adapun sampah plastik bekas pengunjung. Adapun pada situs Batu Tujua terdapat temuan berupa batu yang berjumlah 7. Kondisi situs dipenuhi rerumputan liar sehingga membuat batu tujua tidak terlihat. Vegetasi yang terdapat pada situs yaitu pohon pisang, pohon kelapa, pohon mangga, pohon jati, rerumputan dan tanaman liar serta kebun karet pada sisi barat. Fauna yang terdapat pada situs berupa hewan ternak dan unggas. Situs bisa diakses dengan motor dan berjalan kaki.


Foto 15 Situs Batu Palantikang (Doc: Monira 2018)          
Foto 16 Situs Batu Palantikang (Doc: Monira 2018)





3.3.3 Deskripsi Temuan
Panjang situs 3m dan lebar 3,50m, bagian bangunan atas tidak mengalami kerusakan tembok yang terbuat dari semen dan pasir, Bangunan ini berwarna abu-abu berbahan dasar semen, pasir serta batu kerikil. Sebelah selatan lingkungan situs terdapat kebun, sebelah utara terdapat pemukiman dan jalan setapak, sebelah timur terdapat kebun karet, sebelah barat terdapat rumah panggung yang tidak berpenghuni. Temuan berupa batu berbentuk lingkaran dan dililiti benang putih berdiameter lebar 28cm dan tinggi 64cm dan diatas batu terdapat tulang serta retakan di arah utara di sekeliling batu terdapat 4 tiang yang terbuat dari kayu dan diliti daun pinang pada bagian atas tiang terdapat usunan kayu yang mengarah timur dan barat dan pada bagian atas susunan kayu terdapat buah kelapa kering yang telah dibelah  Vegetasi yang berada di sekitar situs adalah pohon karet, pohon jati, pohon pisang, dan tumbuhan liar. Batu tujua memiliki motif dan ornamen yang tidak teridentifikasi berbentuk lingkaran serta ditumbuhi lumut dan terdapat sebuah retakan.

Foto 18 Temuan Batu Palantikang (Doc:monira 2018)      
Foto 19 Temuan Batu Palantikang (Doc:monira 2018)

Foto 20 Temuan Batu Palantikang (Doc:monira 2018)


3.4 Situs Makam Topanritae ri Sampeang
3.4.1 Deskripsi Lingkungan
Secara astronomis situs ini terletak pada titik koordinat 5o 25’20,8’’ LS dan 120o  12’ 58” BT di Desa bontoharu, Dusun risampeang, RK 0.4 kecamatan Bulukumpa, kabupaten Bulukumba. Pada sisi utara situs bersebelahan dengan desa Salassae, sisi timur bersebelahan dengan dusun Karama, sisi selatan bersebelahan dengan desa Bontowanrianging, sisi barat bersebelahan dengan desa Bontoharu.
. Vegetasi yang terdapat pada situs yaitu pohon nangka, pohon rambutan, teridentifikasi. Fauna yang terdapat juga hewan ternak dan unggas. Situs bias diakses dengan motor dan berjalan kaki.

Foto 21  Lingkungan Topanritae ri Sampeang Sisi Barat (Doc: Monira 2018)

3.4.2 Deskripsi Situs
Situs ini berada di dataran tinggi di Desa bontoharu, risampeang, RK 0.4 kecamatan Bulukumpa, kabupaten Bulukumba. Pada sisi utara situs terdapat kebun,sisi timur terdapat makam dan sumur,sisi barat terdapat makam dan jalan setapak menuju kuburan di sisi selatan terdapat jalan lokal dan pemukiman penduduk.

Foto 22 Situs Topanritae Ri Sampeang (Doc:monira 2018)           



3.4.3                                                                  Deskripsi Temuan
                                                                          Di situs ini terdapat 3 jenis makam  yang berbeda bentuknya dari segi jirad, nisan, gunungan. Yang diambil untuk sampel hanya dua:
-                                                                         Sampel 1
Makam tersebut terdiri dari jirat dan sebuah nisan. Jiratnya terbuat dari beton dengan ukuran panjang 114cm, lebar 60cm dan tinggi 7cm. jirad makam ini berwarna abu-abu dan bertekstur kasar pada bagian atas nisan terdapat bagian yang rusak.

Foto 24 Sampel 1, KompleksTopanritae ri Sampeang (Doc: Monira 2018)

-                                                                         Sampel 2
Bentuk makam tersebut persegi panjang, terdiri dari jirad dan dua buah nisan. Jiradnya terbuat dari bahan tegel dan memiliki panjang 137cm, lebar 79cm, dan tinggi 42cm. terdapat warna emas dibagian atas jirad dan warna putih di setiap sisinya. Nisannya memiliki tinggi 29cm, panjang 15cm dan tebal 12cm. nisannya terbuat dari batu berbentuk balok dan berwarna hitam. Pada nisan tersebut terdapat ragam hias yang membentuk garis vertical. Nisan pada makam ini memiliki tekstur halus sama halnya dengan jiradnya bertekstur halus.

Foto 25 Sampel 2, Kompleks Makam Topanritae ri Sampeang (Doc: Monira 2018)

3.5 Situs Kompleks Makam Galla’ Puto Bengeng
3.5.1 Deskripsi Lingkungan
Secara astronomis situs ini terletak di titik koordinat 5o 19’ 26,3” LS dan 120o 18’ 3” BT di Dusun Benteng, Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Pada sisi utara bersebelahan dengan batu Nilamung, sisi selatan bersebelahan dengan dusun Berayyah, sisi barat bersebelahan dengan dusun Benteng, sisi timur bersebelahan dengan dusun Jonayyah.
Vegetasi yang terdapat pada situs yaitu pohon kamboja, pohon bambu, serta bunga-bunga yang tidak teridentifikasi. Adapun fauna yang terdapat sekitar situs yaitu kupu-kupu, hewan ternak, dan anjing.
3.5.2 Deskripsi Situs
Situs ini terletak pada Dusun Benteng, Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Situs ini berada di dataran rendah dan disekitarnya terdapat makam.  Pada sisi selatan situs terdapat jalan setapak dan pepohonan, sisi utara terdapat kebun, sisi timur terdapat pohon karet dan pohon bambu, sisi barat terdapat hutan. Sisi utara terdapat pemukiman, sisi selatan terdapat pemukiman, sisi timur terdapat jalan setapak, sisi barat terdapat kebun jagung.
Kondisi situs tidak terawatt terlihat dari rumpu-rumput yang ada disekitar makam hampir menutupi makam tersebut, juga bangunan makam yang dulunya berfungsi sebagai penutup makam telah hancur, atap serta tiang sebelah timur tidak ada lagi. Situs ini biasa diakses dengan berjalan kaki terkhusus apabila ingin  memasuki kajang dalam.
3.5.3 Deskripsi Temuan
Nisan berbentuk menhir dan bahannya dari bebatuan besar. Nisan pada makam terdapat lubang. Terdapat batu yang disusun membentuk persegi panjang di sekeliling batas makam, gunungan pada makam terdapat arsiran garis. Terdapat kayu yang lapuk bekas rangka bangunan, tiang dan atapnya sudah tidak ada. Bagian utara makam terdapat tiga makam yang sejajar dengan makam Gala Puto Bengang. Jirat makam memiliki panjang 126 cm, lebar 6,5 cm, tinggi 15,5 cm, dan tebal jirad 14cm. Nisan pada makam memiliki ketebalan 20,2 cm, lebar 48cm, panjang 146cm. Gunungan memiliki lebar 90cm dan tinggi 48cm tebal 12cm. Panjang sekeliling makam 150,3 m. Panjang atas antar makam 3,70 m.

Gambar 02. Temuan Galla Puto


3.6 Situs Kompleks Makam Tanah Towa
3.6.1 Deskripsi Lingkungan
Secara astronomis situs ini terletak di titik koordinat 50 19’ 26,3” LS dan 120o 18’ 3” BT di Dusun Benteng, Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Situs ini berbatasan dengan desa Batu Nilamung pada bagian utara, desa Lurayya pada bagiaan selatan, dusun So’bu pada bagian barat, dan dusun Jannayya pada bagian timur.
Vegetasi yang terdapat di sekitar situs pohon bambu, pohon jati, pohon kelapa,bunga kamboja. Fauna yang terdapat di situs adalah ayam yang merupakan peliharaan warga dan anjing. Akses menuju situs ini adalah berjalan kaki.
3.6.2 Deskripsi Situs
Sebelah utara terdapat makam, pepohonan, jalan setapak dan pemukiman, Selatan terdapat juga makam dan kebun, Sebelah barat terdapat pohon kelapa, bunga yang jenisnya yang tidak teridentifikasi. Sebelah timur terdapat pemukiman. Situs tersebut tidak terawat karena terdapat banyak sampah dan dedaunan kering.
3.6.3 Deskripsi Temuan
                                                                          Pada situs ini terdapat banyak makam yang berbeda, namun yang dijadikan sampel dua temuan.
- Sampel Situs Makam Ammatowa 1 (Boesallang)
Nisan yang digunakan adalah nisan menhir, ukuran tidak teridentifikasi karena pada saat pengambilan data, dilarang untuk mengukur makam tersebut. Pada bagian nisannya terdapat tulisan lontara. Pada bagian gunungan berbentuk segitiga dengan adanya gelombang pada pertengahan, makam terdapat bambu yang artinya makam itu telah dibersihkan. Arah makam adalah arah barat laut. Bagian atas makam terdapat pohon kamboja.

Gambar 03.Temuan Makam Ammatowa

-                                                                         Sampel Situs Makam Karaeng Sobbu
Nisan pada makam ini berbentuk menhir dan pada permukaan nisan terdapat motif simetris dan dengan gambar yang menyerupai orang. Gunungan pada makam berbentuk dasar segitiga dan luarannya bergelombang. Dan jiradnya adalah susunan batu yang pada bagian timur terdapat lumut. Ukuran makam tidak teridentifikasi.

Gambar 04. Temuan Makam Karaeng Sobbu






3.7 Situs Kompleks Makam Mattu Dg. Pahakang
3.7.1 Deskripsi Lingkungan
Secara astronomis situs ini berada pada titik koordinat 050  20’ 27,0” LS dan 1200 19’ 28,4” BT di Desa Lembbanna, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Situs ini berbatasan dengan desa Tana Toa pada bagian utara, dusun Lembanna pada bagiaan selatan, desa Tambangang pada bagian barat, dan desa Bettarannu pada bagian timur. Vegetasi yang ada pada situs adalah pohon mangga, pohon kelapa,

Foto 26  Lingkungan Mattu Dg. Pahakang (Doc: Imam 2018)


3.7.2 Deskripsi Situs
Situs ini berada pada Desa Lembanna, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Situs ini berada di dataran tinggi.   Di sisi utara terdapat hutan dan pemukiman, sisi barat terdapat pemukiman, sisi timur terdapat makam dan jalan lokal, sisi selatan terdapat pemukiman. Kondisi situs tidak terawat karena banyak rerumputan serta sampah plastik. Situs ini bisa diakses dengan mobil, motor, dan berjalan kaki.

Foto 27.Situs Kompleks Makam Dg Pahakang (Doc:imam 2018) 
Foto 28.Situs Kompleks Makam Dg Pahakang (Doc:imam 2018)

3.7.3 Deskripsi Temuan
                                                                                  Pada situs ini banyak terdapat makam yang berbeda gunungan, jihad, nisan yang dapat dijadikan sampel. Berikut makam yang dideskripsikan, antara lain:
1)                                                                       Sampel 1
Nisannya berbentuk balok  dengan tinggi 111cm, lebar 14cm,dan tebalnya 21cm. gunungan memiliki lebar 51cm, tinggi 61cm dan tebal 8cm terdapat retakan pada kedua gunungan tersebut. jiradnya memiliki panjang 86cm, tinggi 32cm, dengan ketebalan 7cm. kondisi makam masih utuh namun dipenuhi oleh lumut.

Foto 29.Sampel 1, Kompleks Makam Dg Pahakang (Doc:imam 2018)

2)                                                                       Sampel 2
Nisannya berbentuk pipih dengan tinggi 64cm, lebar 15cm, dan tebal 10cm. menghadap utara dengan motif garis. Jiradnya memiliki panjang 71cm, lebar 32 cm, tebal 8cm. gunungannya memiliki tinggi 47cm, lebar 39cm tebal 7cm. kondisi makam dipenuhi lumut, gunungannya roboh begitupu dengan jiradnya.

Foto 30.Sampel 2, Kompleks Makam Dg Pahakang ( (Doc:imam 2018)

3)                                                                       Sampel 3
Nisan berbentuk balok memiliki tinggi 72cm, lebar 21cm, memiliki motif bergaris dan ornament serta terdapat bagian runcing pada bagian atas dengan diameter 5 cm. jirad pada makam memiliki panjang 70cm, tinggi 10cm, tebal 8cm. tinggi gunungan 40cm, lebar 20cm, dan tebal 9cm memiliki retakan pada bagian atasnya. Kondisi makam hampir tidak terlihat karena ditumbuhi semak belukar dan rerumputan kering.


Foto 31 Sampel 3, Kompleks Makam Dg. Pahakang (Doc. Imam 2018)

4)                                                                       Sampel 4
Nisan pada makam ini berbentuk balok memiliki tinggi 155cm, lebar 19cm, tebal 12cm. memiliki lubang pada bagian atasnya serta terdapat motif bergaris. Gunungan memiliki tinggi 62cm, lebar 68cm, tebal 10cm. memiliki ragam hias pada bagian luar gunungan. Gunungan tinggal satu karena yang disebelahnya roboh. Jiradnya memiliki panjang 104cm, tinggi 42cm, dan tebal 10cm dan memilki ragam hias berbentuk gelombang. Kondisi makam dipenuhi oleh lumut, dedaunan kering, dan rerumputan.

Foto 32 Sampel 4, Kompleks Makam Dg. Pahakang (Doc. Imam 2018)

3.8 Kompleks Makam Tontang  Dg. Matarrang
3.8.1 Deskripsi Lingkungan
Secara astronomis situs ini berada pada titik koordinat 05o 20’ 01,2” LS dan 120o 19’ 35,4” BT di Desa Kassi, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulaawesi Selatan. Pada sisi utara bersebelahan dengan dusun Raowa 2, sisi selatan berseelahan dengan dusun Raowa, sisi barat bersebelahan dengan desa Salakolaarowa, sisi timur bersebelahan dengan desa Padang.
Vegetasi pada situs yaitu pohon beringin, pohon kelapa, pohon jambu biji, pohon pisang, pohon bamboo dan pepohonan yang tidak teridentifikasi. Adapun fauna burung.




3.8.2 Deskripsi Situs
Situs ini terdapat pada Desa Kassi, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Pada sisi utara situs terdapat pemukiman dan jalanan lokal, sisi selatan terdapat kebun dan jalan lokal, sisi barat terdapat makam dan juga kebun, sisi timur terdapat pepohonan dan pemukiman. Adapun populasi makam berjumlah 118 terdapat 35 makam tua dan 93 makam baru. Kondisi situs terawat dengan tidak adanya sampah yang berserakan hanya dedaunan dari pohon bambu yang terdapat di permukaan. Akses ke situs dengan berjalan kaki menaiki tangga yang berjumlah 36 buah.

Foto 34 Situs Kompleks Makam Tontang Dg  Matarang (Doc:mega 2018)          
Foto 35 Situs Kompleks Makam Tontang Dg  Matarang (Doc:mega 2018)







3.8.3                                                                  Deskripsi Temuan
Pada situs ini terdapat banyak makam yang berbeda bentuknya baik itu jirad, nisan, maupun gunungannya. Namun yang kami lampirkan hanya 4 sampel, antara lain:
1)                                                                       Sampel 1
Nisan berbentuk silindrik dengan tinggi 131cm, lebar 31cm, panjang nisan 40cm yang memiliki 8 sisi dengan gunungan yang berbentuk mahkota segitiga temuan ini ditumbuhi lumut dan jirad berbentuk persegi panjang menghadap utara. Panjang jirad 141cm, lebar 63cm, tinggi 22cm. Tinggi gunungan 61cm, lebar 10cm dan panjang 50cm.

Foto 36 Sampel 1, Kompleks Makam Tontang Dg  Matarang (Doc: Mega 2018)

2)                                                                       Sampel 2
Nisan berbentuk balok tinggi 8,6cm, lebar 7,5 cm dengan diatasnya dipahat. Terdapat 2 nisan di kuburan ini berbentuk segitiga yang dipahat 4 sisi.

Foto 37 Sampel 2, Kompleks Makam Tontang Dg  Matarang (Doc: Mega 2018)

3)                                                                       Sampel 3
Gunungan makam memiliki tinggi 36cm, lebar 44cm. Nisan ini berbentuk pallus panjang nisan 135cm, lebar 20cm dan nisan yang kedua memilki tinggi 86cm dan lebar 18cm. jirad berbentuk persegi empat dengan panjang 101cm, lebar 11cm. gunungan makam ini dasarnya segitiga, namun luarnya bergelombang.

Foto 38 Sampel 3, Kompleks Makam Tontang Dg  Matarang (Doc: Mega 2018)









4)                                                                       Sampel 4
Gunungan makam memiliki panjang 51cm, lebar 48cm. jirad lebarnya 7cm, makam ini ditumbuhi oleh rerumputan liar dengan ukuran 107cm. Nisan yang berbentuk menhir memiliki tinggi 87cm memilki 8 sisi mengarah pada utara selatan.

Foto 39 Sampel 4, Kompleks Makam Tontang Dg  Matarang (Doc: Mega 2018)



3.9 Situs Kompleks Makam Tobo Dg. Marappa
3.9.1 Deskripsi Lingkungan
Secara astronomis situs ini terletak di titik koordinat 05o 19’ 22,9” LS dan 120o  21’ 97” BT di Desa Kassi, kecamatan Kajang, Kabupaten bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan.  Situs ini berbatasan dengan desa Tarongkolang pada bagian utara, Pasar Tua pada bagiaan selatan, desa Tapijeng pada bagian barat, desa Enre Bulang pada bagian timur. Vegetasi pada situs yaitu  pohon mangga, pohon pisang, pohon kelapa.

Foto 40 Lingkungan Tobo Dg Marappa (Doc:Mega 2018)

3.9.2 Deskripsi Situs
Situs terletak pada Desa Kassi, kecamatan Kajang, Kabupaten bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Situs berada di dataran tinggi dan terawat karena tidak terdapat rerumputan.  Pada sisi utara situs terdapat pemukiman dan muara sungai, sisi timur juga terdapat pemukiman, sisi selatan terdapat pemukiman dan jalan poros dan sisi barat terdapat bukit. Populasi makam berjumlah 250, terdapat 68 makam tua dan 31 makam baru. Ditengah situs terdapat pohon yang bernama Rita seperti disebutkan warga sekitar. Akses ke situs dengan menggunakan mobil, motor, dan berjalan kaki.

Foto 41 Situs Tobo Dg Marappa (Doc:Mega 2018)

3.9.3 Deskripsi Temuan
                                                                          Pada situs ini kami mengambil 5 sampel makam yang dideskripsikan, sebagai berikut :
1)                                                                       Sampel 1
Memiliki gunungan makam 71cm dan Nisan berbentuk menhir memiliki ukuran 57cm dan terdapat 4 sisi pada gunungan makam.

Foto 42 Sampel 1, Kompleks makam Tobo Dg Marappa (Doc:Mega 2018)

2)                                                                       Sampel 2
Panjang gunungan 70cm, lebar 45cm. Nisan berbentuk pipih dengan panjang 45cm dan pada makam ini terdapat dua nisan yang sama bentuknya. pada permukaan makam terdapat daun pandan. Pada nisan terdapat gambar kepala, badan dan dibawah terdapat pahatan.

Foto 43 Sampel 2, Kompleks makam Tobo Dg Marappa (Doc:Mega 2018)

3)                                                                       Sampel 3
Jirad memiliki panjang 100cm dan lebar 9cm. nisan memiliki tinggi 89cm dan lebar 26cm berbentuk pipih dengan pahatan diatasnya dan memiliki motif putih tidak beraturan. Gunungan memiliki lebar 48cm dan tinggi 47cm.                                     

Foto 44 Sampel 3, Kompleks makam Tobo Dg Marappa (Doc: Mega 2018)
                                                                                                                                                                                                                                            
DISUSUN OLEH: ST. NURUL HUDAYA



1 komentar:

  1. Numpang promo ya Admin^^
    ayo segera bergabung dengan kami di ionqq^^com
    dengan minimal deposit hanya 20.000 rupiah :)
    Kami Juga Menerima Deposit Via Pulsa & E-Money
    - Telkomsel
    - XL axiata
    - OVO
    - DANA
    segera DAFTAR di WWW.IONPK.CLUB :-*
    add Whatshapp : +85515373217 ^_~

    BalasHapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS