BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sulawesi
Selatan sebagai Bandar Niaga terbesar, tentu banyak para pedagang dan pebisnis
yang tertarik untuk datang dan melakukan transaksi perdagangan di kawasan
Sulawesi Selatan. Kedatangan para pedagang yang beragama Islam, kemudian
mempercepat proses Islamisasi di pusat-pusat kerajaan di Sulawesi Selatan.
Namun dalam literature sejarah di dapatkan informasi, bahwa secara khusus
Islamisasi di Sulawesi Selatan tidak dapat dipisahkan dari peran utama tiga
muballig yang ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam di daerah ini, yaitu
dari Minang Kabau Sumatera Barat yang terkenal di kalangan masyarakat Bugis
“Datu Tellue”, ialah Abdul Kadir Datuk Tunggal dengan panggilan Datuk ri
Bandang, Sulung Sulaeman yang digelar Datuk Patimang, dan Khatib Bungsu yang
digelar Datuk ri Tiro. Ketiga ulama ini berbagi tugas wilayah dalam melakukan
kegiatan penyebaran Islam. Datuk ri Bandang bertugas di Kerajaan kembar
Gowa-Tallo, Datuk Patimang bertugas di Kerajaan Luwu, dan Datuk ri Tiro
bertugas di daerah Tiro Bulukumba.
Penerimaan
Islam sebagai agama dan peradaban di kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan
memperlihatkan pola “top down”, yaitu: Islam pertama-tama diterima langsung
oleh Raja, kemudian turun ke bawah yaitu kepada rakyat.
Artinya
setelah raja menerima agama Islam dan menjadikannya sebagai agama Negara, maka
otomatis seluruh rakyat kerajaan mengikuti raja memeluk agama Islam. Islam
diakui secara resmi pada abad ke-17 (Paramita, 2015, hal. 2).
Dalam
sejarah penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan tepatnya di daerah
Bulukumba, Dato Tiro menjadi tokoh sentral dalam penyebaran agama Islam di
daerah ini. Dato Tiro yang mempunyai nama asli Al Maulana Khatib Bungsu datang
ke Sulawesi Selatan bersama dua orang sahabatnya yaitu: Khatib Makmur yang
lebih dikenal dengan nama Dato ri Bandang dan Khatib Sulaiman yang lebih
dikenal dengan Dato Patimang. Pada tahun 1604 M, Al Maulana Khatib Bungsu
menyiarkan agama Islam di Tiro (Bulukumba) dan sekitarnya. Adapun raja yang
pertama diislamkan dalam kerajaan Tiro adalah Launru Daeng Biasa yang bergelar
Karaeng Ambibia. Launru Daeng Biasa adalah cucu ke empat dari Karaeng Samparaja
Daeng Malaja yang bergelar Karaeng Sapo Batu yang merupakan raja pertama di Tiro.
Langkah
awal dan utama untuk penyebaran sebuah agama di suatu daerah tertentu biasanya
dimulai dengan mengajak raja mereka untuk memeluk agama Islam terlebih dahulu,
apabila rajanya sudah memeluk agama Islam maka rakyatnya akan dengan mudah
diajak untuk menganut agama tersebut pula. Dato Tiro awalnya mengundang Launru
Daeng Biasa untuk berdialog, namun ajakan Dato Tiro ini ditolak oleh Launru
Daeng Biasa karena beliau merasa sebagai penguasa tertinggi
dan
pemilik kedaulatan di daerah tersebut. Akhirnya
dengan rendah hati Dato Tiro sendiri yang kemudian datang ke tempat kediaman
raja Launru Daeng Biasa dan sekaligus menyampaikan tujuan kedatangannya. Dato
Tiro disambut baik oleh raja Launru Daeng Biasa, dan selanjutnya Dato Tiro
memberikan penjelasan tentang kebenaran ajaran Islam yang dibawanya dan
bersumber dari Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Pada awalnya raja Launru daeng Biasa tidak mau
meninggalkan faham kepercayaan yang diturunkan oleh pandahulunya dan sudah
mendarah daging pada diri masyarakatnya. Namun karena kegigihan Dato Tiro
memperkenalkan agama Islam dan perlahan-lahan raja Launru Daeng Biasa menemukan
kebenaran di dalam ajaran agama Islam tersebut maka pada akhirnya dapat
menerima agama Islam dan menganutnya. Selanjutnya raja Launru Daeng Biasa
mengislamkan istrinya kemudian kerabatnya bahkan seluruh hadat dan rakyat
kerajaan Tiro dan sekitarnya. ( Ijan suryadi, 2016).
Proses
tersebut menjadi bukti proses islamisasi di daerah Bulukumba. Bukan hanya itu,
hal tersebut dapat dilihat dengan banyaknya situs, yang dimana situs tersebut
berisi makam yang bercorak islam dengan paduan peninggalan-peninggalan
Megalitik. Alasan melakukan atau mengambil data di daerah Bulukumba yaitu
tinggalan-tinggalan atau makam yang terdapat didaerah tersebut memiliki bentuk
yang menarik, dimana terdapat makam yang nisannya berbentuk
menhir
menhir ini seperti yang diketahui merupakan salah satu tinggalan arkeologi pada
zaman batu besar atau zaman megalitik. Hal inilah yang membuat peneliti
tertarik untuk menulis tentang beberapa makam Islam di Bulukumba.
1.2 Rumusan
Masalah
Jelaskan
tinggalan arkeologi yang terdapat di Bulukumba?
1.3 Tujuan
dan manfaat penelitian
Adapun
tujuan dilakukannya penelitian tersebut diantaranya:
- Mengetahui tinggalan Arkeologi Islam di
Bulukumba
- Mengetahui jenis makam, nisan serta
jirat yang terdapat pada makam
- Mengetahui perbedaan makam-makam tua
dan makam baru
Manfaat yang dapat diperoleh dari
penelitian ini:
o Memberi wawasan seputar tinggalan
arkeologi Islam di Bulukumba
o Memberi wawasan tentang jenis makam,
nisan, dan jirat.
o Memberi pengetahuan bagaimana membedakan
makam tua dan makam baru
1.4 Metode
Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan
beberapa metode diantaranya:
1.4.1.1 Studi pustaka
Studi
pustaka dilakukan sebelum melakukan penelitian. Dalam studi pustaka peneliti
mencari literature seputar tinggalan arkeologi di bulukumba sebagai data awal
ke lapangan. Dengan cara membaca
referensi-referensi di internet.
1.4.1.2 Wawancara
Wawancara
dilakukan setelah sampai pada sebuah situs. Wawancara ini dilakukan untuk
memperkuat data yang telah di deskripsikan. informan yang dibutuhkan yaitu
penjaga situs, tokoh-tokoh adat disekitar situs, serta masyarakat yang
mengetahui tentang situs tersebut.
1.4.3 Deskripsi
Pendeskripsian
dimulai dengan mendeskripsikan lingkungan, situs, dan temuannya. Dalam
pendeskripsian lingkungan, yang dijelaskan yaitu letak astronomis,
administratif,
geografis, dan vegetasinya. Adapun cara mendeskripsikan suatu situs yaitu
dijelaskan kondisi sebuah situs, letak temuan, dan konsentrasi temuan. Dan cara
menjelaskan atau mendeskripsikan sebuah temuan yaitu berdasarkan dimensi
bentuk, warna, ukuran, bahan, dan ragam hiasnya.
1.4.1.3 Foto Arkeologi
Foto
arkeologi merupakan salah satu metode penelitian yang dilakukan untuk
memperkuat suatu penelitian dalam bentuk gambar. Foto arkeologi dilakukan
dengan cara memberi skala pada setiap pengambilan gambar. Selain itu dilakukan
juga sketsa makam dalam hal ini, jirat, nisan serta gunungan makam. Sketsa
dilakukan hanya pada dua situs sebab dua situs tersebut berada dalam kawasan
adat Kajang dimana dilarang mengambil potret/gambar apapun didalam.
Bab
2
Profil
Wilayah
2.1.
Kabupaten Bulukumba

Gambar
01. Peta Administratif Kabupaten Bulukumba.
2.2
Profil Wilayah
Kabupaten
Bulukumba adalah salah satu daerah tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan,
Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di kota Bulukumba. Kabupaten ini
memiliki luas wilayah 1.154,67 km² dan berpenduduk sebanyak 394.757 jiwa
(berdasarkan sensus penduduk 2010).
Kabupaten
Bulukumba mempunyai 10 kecamatan, 27 kelurahan, serta 109 desa. Secara
astronomi Bulukumba terletak pada titik koordinat antara 5° 20" samapi 5°
40" LS dan 119° 50" sampai 120° 28" BT. Batas wilayah Kabupaten Bulukumba sebelah
utara berbatasan dengan kab. Sinjai, sebelah selatan berbatasan dengan laut
Flores, sebelah timur berbatasan dengan teluk Bone, sebelah barat berbatasan
dengan Bantaeng.
Secara kewilayahan, kabupaten
Bulukumba berada pada kondisi 4 dimensi yakni dataran tinggi pada kaki gunung
Bawakaraeng-Lompobattang, dataran rendah, pantai dan laut lepas. Kabupaten
Bulukumba terletak pada ujung bagian selatan ibukota provinsi Sulawesi Selatan,
terkenal dengan industri perahu Phinisi yang banyak memberikan nilai tambah
ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Awal
terbentuknya kabupaten bulukumba hanya terdiri atas tujuh kecamatan yaitu:
ujungbulu, gangking, bulukumpa, bontobahari, bontotiro, kajang, dan herlang.
Tetapi beberapa kecamatan kemudian dimekarkan dan kini “butta panrita lopi”
sudah terdiri atas 10 kecamatan yaitu: Kecamatan Ujung Bulu (Ibukota
Kabupaten), Kecamatan Gantarang, Kecamatan Kindang, Kecamatan Rilau Ale,
Kecamatan Bulukmpa, Kecamtan Ujungloe, Kecamatn Bontobahari, Kecamatn
Bontotiro, Kecamatan Kajang, Kecamatan Herlang. Dari 10 kecamatan tersebut,
tujuh diantaranya merupakan daerah pesisir sebagai sentra pengembangan
parawisata dan perikanan
yaitu
Kecamatan Ujungbulu, Kecamatan Ujung Loe, Kecamatan Bontobahari, Kecamatan
Bontotiro, Kecamatan Kajang Dan Kecamatn Herlang. Tiga kecamatan lainnya
tergolong sentra penegmbangan pertanian dan perkebunan yaitu Kecamatan Kindang,
Kecamatan Rilau Ale Dan Kecamatan Bulukumpa.
2.2.1.
Sejarah Singkat
Mitologi penamaan bulukmba konon
bersumber dari dua kata dalam bahasa bugis yaitu buluku dan mupa yang dalam
bahasa Indonesia berarti masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya.
Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke-17 M ketika terjadi perang saudara antara
dua kerajaan besar di Sulawesi yaitu kerajaan gowa dan kerajaan bone. Di
pesisir pantai yang bernama tana kongkong, disitulah utusan raja Gowa dan raja
Bone bertemu, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah
pengaruh kerajaan masing-masing.
Bangkek
buki (secara harafiah berarti kaki bukit) yang merupakan barisan lereng bukit
dari gunung lompobattang dikalim olwh pihak kerajaan gowa sebagai batasan
wilayah kekuasaan mulai dari kindang sampai wilayah bagian timur. Namun pihak
kerajaan Bone bersikeras mempertahankan kekuasannya mulai dari barat samapai ke
selatan.berawal dari peristiwa tersebut kemudian tercetus kaliamat dalam bahasa
bugis bulu kumpa yang kemudian pada tingkatan dialek tertentu mengalami
perubahan proses bunyi menjadi Bulukumba. Konon sejak itulah nama Bulukumba
mulai ada dan hingga saat ini menjadi sebuah kabupaten.
Peresmian Bulukumba menjadi sebuah nama
kabupaten dimulai dari terbitnya undang-undang nomor 29 tahun 1959, tentang
pembentukan daerah-daerah tingkat II di Sulawesi yang ditindak lanjuti dengan
peraturan daerah Kabupaten Bulukumba nomor 5 tahun 1978, tentang lambing
daerah.
Akhirnya
setelah dilakukan seminar seharipada tanggal 28 maret 1994 dengan narasumber
Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada maka ditetapkanlah hari jadi Kabupaten Bulukumba
yaitu tanggal 4 Febuari 1960 melalui peraturan daerah nomor 13 tahun 1994.
Secara
yuridis formal Kabupaten Bulukumba resmi menjadi daerah tingkat II setelah
ditetapkan lambang daerah Kabupaten Bulukumba oleh DPRD Kabupaten Bulukumba
pada tanggal 4 Februari 1960 dan selanjutnya dilakukan pelantikan bupati
pertama yaitu Andi Patarai pada tanggal 12 Februari 1960.
Paradigma
kesejarahan, kebudayaan dan keagamaan memberikan nuansa moralitas dalam sistem
pemerintah yang pada tatanan tertentu menjadi etika bagi struktur kehidupan
masyarakat melalui “mall’sipareppe Tallang sipahu.” Ungkapan yang mencerminkan
perpaduan dari dua dialeek bahas Bugis–Makassar tersebut merupakan gambaran
sikap batin masyarakat Bulukumba untukmengemban amanat persatuan di dalam
mewujudkan keselamatan bersama demi terciptanya tujuan pembangunan lahir dan
batin, material dan spiritual, dunia dan akhirat.
Nuansa
moralitas ini pula yang mendasari lahirnya slogan pembanguan Bulukumba berlayar
yang mulai disosialisasikan pada bulan September 1994 dan disepakati
penggunannya pada tahun 1996. Konsep berlayar sebagai moral pembangunan lahir
batin mengandung filosofi yang cukup dalam serta memiliki kaitan kesejahteraan,
kebudayaan dan keagamaan dengan masyarakat Bulukumba.
Perlawanan
rakyat Bulukumba terhadap kolonial Belanda dan Jepang menjelang proklamasi
Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 diawali dengan terbentuknya “Barisan Merah
Putih” dan “Laskar Brigade Pemberontakan Bulukumba Angkatan Rakyat”. Organisasi
yang terkenal dalam sejarah perjuangan ini, melahirkan pejuang yang berani mati
untuk kemerdekaan sebagai wujud tuntutan hak asasi manusia dalam hidup berbangsa
dan bernegara.
Masyarkat
Bulukumba telah bersentuhan dengan ajaran agama Islam sejak awal abad ke-17
masehi, yang diperkirakan tahun 1605 masehi. Ajaran agama Islam ini dibawa oleh
3 ulama besar (Waliyullah) dari pulau Sumatera yang masing-masing bergelar Dato
Tiro (Bulukumba), Dato ri Bandang (Makassar), dan Dato Patimang (Luwu). Ajaran
agama Islam yang berintikan tasawwuf ini menumbuhkan kesadaran religius bagi
penganutnya dan menggerakkan sikap keyakinan mereka untuk berlaku zuhut, suci
lahir batin selamat dunia dan akhirat dalam kerangka tauhid Appasewang
(mengEsakan Allah Subhanahu Wata’ala).
2.3
Keadaan Geografis
Bulukumba berada di dataran rendah
dengan kentinggian antara 0-25 meter diatas permukaan laut. Wilayah Kabiupaten
Bulukumba lebih didominasi dengan keadaan topografi dataran rendah samapa
bergelombang. Luas dataran rendah sampai bergelombang dan dataran tinggi hamper
berimbang yaitu jika dataran rendah sampai bergelombang mencapai sekitar 50,28
% maka dataran tinggi mencapai 49,72 %.
Kondisi tanah di Kabupaten Bulukumba
didominasi oleh jenis tanah lotosol dan mediiteran. Secara spesifik terdiri
atas tanah alluvial hidromorf coklat kelabu dengan bahan induk endapan liat
pasir terdapat dipesisir pantai dan sebagian di daratan bagian utara. Sedangkan
tanah regosol dan mediteran terdapat pada daerah-daerah bergelombang sampai
berbukit di wilayah bagian barat.
Sungai di Kabupaten Bulukumba ada 32
aliran yang terdiri dari sungai besar dan sungai kecil. Sungai-sungai ini
mencapai panjang 603,50 km dan yang terpanjang adalah sungai sangkala yakni
63,30 km, sedangkan yang terpendek adalah sungai biroro yakni 1,50 km.
sungai-sungai ini mampu mengairi lahan sawah seluas 23.365 Ha.
2.4 Sosial Budaya
Dari sisi budaya, kajang merupakan tempat
yang berada di pedalaman secara turun menurun, tempatnya di Kecamatan Kajang,
Kab. Bulukumba.
Daerah itu dianggap sebagai tanah warisan
leluhur yang harus dijaga dan mereka menyebuutnya Tana Toa atau Kampung Toa.
Masyarakat lebih kenal dengan nama Ammatoa Kajang. Ammatoa merupakan sebutan
pemimpin adat mereka yang diperoleh secara turun menurun. Masyarakat ammatoa
Kajang dibedakan menjadi dua krelompok, yaitu Rilalang Embayya atau yang lebih
dikenal Kajang Dalam dan lebih dikenal dengan Kawasan Adat Ammatoa dan
Ipantarang Embayya atuy lebih dikenal
dengan nama Kajang Luar. Kehidupan masyarakat Kajang sangat dipengaruhi
oleh kepercayaan yang dianut yaitu yang bersumber dari pesan, petuah, amanah
yang bersifat sacral dan hukumnya wajib untuk dilakasanakan.
Bagi masyarakat Kajang, ajaran para
leluhur memiliki arti penting. Begitu pentingnya, mereka selalu menjalankan
berbagai aktifitas kehidupan berdasarkan tradisi leluhur. Aturan adat dari sang
leluhur juga selalu mengikat setiap kegiatan mereka.
Sekarang sudah banyak suku pedalaman yang
meninggalkan ritual adatnya, suku Kajang suku yang sangat tidak bisa menerima
perubahan meskipun hanya sedikit. Mereka
menganggap perubahan itu melanggar hukum adat yang dibuat oleh nenek moyang.
Suku kajang merupakan suku yang unik, alami, sederhana, alam yang masih asri,
hutan yang masih terjaga. Menjadikan kajang menjadi salah satu favorit wisata
budaya.
Salah satunya yang membuat terhambatnya
wisata kesana adalah ketakutan orang luar memasuki suku Kajang. Karena mendengar
orang kajang sendiri, orang akan takut dengan dotinya, semacam sihir dan
kekuatan gaib yang mematikan dan orang kajang tertutup dengan orang luar.
BAB
III
HASIL
PENELITIAN & PEMBAHASAN
3.1 Situs Bulu Karaeng Puang
3.1.1 Deskripsi Lingkungan
Secara astronomis situs ini berada di titik koordinat 5o 19’ 21,3” LS
dan 120o 0,7’ 21,5” BT. Desa Barugae,
Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Secara
geografis, situs tersebut pada sisi utara berbatasan dengan desa Marowangeng.
Sisi selatan berbatasan dengan desa Galuneuro. Sisi barat berbatasan dengan
desa Ta’gantung dan sisi timur
berbatasan dengan desa Rakombong.
Vegetasi yang ada disekitar situs adalah
pohon jeruk, pohon beringin, pohon salak, pohon coklat dan terdapat fauna ayam
serta sapi yang dipelihara warga. Karaeng puang merupakan objek arkeologi
tempat penyembahan masyarakat, baik itu masyarakat lokal maupun masyarakat
pendatang. Di sisi utara terdapat tower listrik, pepohonan dan pemukiman, sisi
barat terdapat hutan, sisi selatan terdapat pepohonan, sisi timur terdapat
bangunan dan juga pohon, sebelah barat semak belukar dan hutan.
Foto
01 Lingkungan Karaeng Puang Sisi Utara (Dok: Imam 2018)
3.1.2 Deskripsi Situs
Situs berada pada Desa Barugae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten
Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Kondisi situs sebelah tidak terawat
karena terdapat banyak sampah plastik, dedaunan kering, ranting pepohonan
kering dan semak belukar yang tumbuh di sekitar bangunan. Situs biasa diakses
dengan mobil, motor dan berjalan kaki.
Foto
02 Situs Karaeng Puang
Tampak depan (Doc:Imam 2018)
Foto 03 Situs Karaeng Puang
Tampak Samping (Doc: Imam 2018)
3.1.3 Deskripsi Temuan
Temuan berada didalam bangunan, dimana
pondasi bangunan sisi utara dan selatan memiliki panjang 5,07 m dan pondasi
sisi barat dan timur panjangnya 5,19 m serta pintu bangunan yang menghadap ke
arah barat. Ventilasi bangunan terdapat banyak ikatan tali dari tali rafia,
kantong plastik serta kain. Menurut juru kunci, bapak GN,KRP, P.Hakim, maksud
dari ikatan tersebut sebagai tanda permohonan agar apa yang di inginkan
terkabul.
Pada bangunan situs sebelah barat objek
terdapat dinding yang dilapisi tegel dan juga terdapat tiga buah piring plastik
yang digunakan sebagai wadah untuk membakar lilin.
Objek
ini berada dalam sebuah bangunan yang di dominasi dengan warna hijau. terdapat
batu. Objek ini memiliki panjang 140 cm dan lebar 85 cm.
Foto
04 Temuan Situs Karaeng Puang (Doc: Imam 2018)
Foto
05 Temuan Situs Karaeng Puang (Doc: Imam 2018)
3.2
Situs Kompleks Bengeng Lamppe Uttu’ Kampong Toa
3.2.1
Deskripsi Lingkungan
Kompleks
makam Bengeng Lampe Uttu’ terletak pada koordinat 05o 19’ 55.5” LS dan 1200 7’
59,7” BT. Secara administratif berada di Desa kampong Toa, Kecamatan Bulukumpa,
Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Sisi utara situs bersebelahan
dengan desa Rakombong. Sisi selatan bersebelahan dengan desa Biroro. Sisi timur
bersebelahan dengan desa Lonjong. Sisi barat bersebelahan dengan desa Jeri.
Foto 06 Lingkungan Bengeng Lamppe Uttu’
Kampong Toa (Doc: Imam 2018)
3.2.2
Deskripsi Situs
Situs
terletak pada Desa kampong Toa, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba,
Provinsi Sulawesi Selatan. Sisi Utara terdapat hutan dan pemukiman,
sisi
selatan terdapat jalan setapak dan
hutan, sisi timur terdapat hutan dan perkebunan. Situs ini memiliki permukaan
yang landai di sisi timur. Kondisi situs tidak terawat karena disekitar makam
ditumbuhi rerumputan, sampah plastik serta ranting-ranting pohon kering dan
kotoran hewan karena situs digunakan oleh warga sekitar untuk pakan sapi.
Konsentrasi temuan pada situs berupa makam yang tidak tersusun rapi. Vegetasi
yang berada di sekitar situs adalah pohon pisang, pucuk merah, pohon bambu, pohon
cengkeh, dan pepohonan yang tidak teridentifikasi. Fauna yang terdapat pada sekitaran situs
yaitu hewan ternak dan unggas Situs ini bisa diakses dengan mobil,motor dan
berjalan kaki.
Foto 07 Situs Bengeng Lamppe Uttu’ Kampong Toa
(Doc: Imam 2018)
Foto
08 Situs Bengeng Lamppe Uttu’ Kampong Toa (Doc: Imam 2018)
3.2.3
Deskripsi Temuan
Pada
situs ini terdapat berbagai makam yang dapat dideskripsikan, namun hanya
beberapa makam yang diambil untuk menjadi sampel. Antara lain:
1)Sampel
1
Nisannya
terbuat dari batu sungai yang berada di tengah makam dengan panjang 37cm dan
tinggi 20cm,
nisan
dipenuhi oleh lumut. Jirat makam berundak dengan panjang 84 cm dan tinggi 8 cm.
Makam memiliki gunungan dengan lebar 45cm, tinggi 35 cm yang dipenuhi lumut.
Makam masih utuh dan menghadap utara dan selatan.
Foto
09 Sampel 1, Situs Lampe Uttu (Doc:imam 2018)
2) Sampel
2
Nisannya
makam berbentuk silindrik dengan panjang 42cm dan memiliki 8 sudut. Gunungan
makam memiliki lebar 34cm dan tinggi 23cm serta tebal gunungannya 13cm. Jirat
makam berundak dengan panjang 90cm.
Foto
10 Sampel 2, Lampe Uttu (Doc:imam 2018)
3) Sampel
3
Nisan
makam berbentuk menhir dengan panjang 34cm, lebar 10cm, dan tebal 7cm. Jirad
makam berundak, terdapat retakan diatas jirad dengan panjang 40cm, tinggi 19cm
panjang 30cm dan tebal 13cm
Foto
11 Sampel 3, Lampe Uttu (Doc:imam 2018)
4) Sampel
4
Nisan
makam berberntuk pallus yang dipenuhi lumut dan memiliki tinggi 48cm, lebar 8cm
dan panjang 20cm. Makam tersebut tidak memiliki jirat dan hanya terdapat
jejeran batu pada pinggiran makam.
Foto
12 Sampel 4, Lampe Uttu (Doc:imam 2018)
5) Sampel
5
Nisan
makam berbentuk pipih yang berukuran panjang 89cm, lebar 7cm, tebal 14cm.
Gunungan yang memiliki panjang 46cm. Panjang sekeliling makam 117cm. Panjang
Jirat 56cm. Bahan yang digunakan adalah semen dan batu.
Foto
13 Sampel 5, Lampe Uttu (Doc:imam 2018)
3.3
Situs Batu Palantikang Salassae
3.3.1
Deskripsi Lingkungan
Secara
astronomis situs ini terletak pada titik koordinat 5o 22’ 51,2” LS dan 120o 12’
27,5” BT. Secara administratif berada di desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa,
Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Sisi utara situs bersebelahan
dengan desa Jojolo, sisi selatan bersebelahan dengan desa Bontoharu, sisi barat
bersebelahan dengan desa Bulo-Bulo, sisi timur bersebelahan dengan desa
Bontomangiring.
Foto
14 Lingkungan situs Palantikang Sisi Timur (Doc: Monira 2018)
3.3.2
Deskripsi Situs
Situs
ini terletak pada Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, provinsi
Sulawesi Selatan. Pada sisi utara terdapat kebun dan jalan setapak, sisi barat
terdapat rumah panggung yang sudah tidak utuh, sisi selatan terdapat hutan dan
jalan setapak, sisi timur terdapat hutan dan kebun karet.
Kondisi
situs tidak terawat karena di sisi timur bangunan terdapat gundukan tanah yang
ditumbuhi rerumputan liar serta sisi barat tepatnya di belakang bangunan
terdapat tanaman liar yang tumbuh lebat adapun sampah plastik bekas pengunjung.
Adapun pada situs Batu Tujua terdapat temuan berupa batu yang berjumlah 7.
Kondisi situs dipenuhi rerumputan liar sehingga membuat batu tujua tidak
terlihat. Vegetasi yang terdapat pada situs yaitu pohon pisang, pohon kelapa,
pohon mangga, pohon jati, rerumputan dan tanaman liar serta kebun karet pada sisi
barat. Fauna yang terdapat pada situs berupa hewan ternak dan unggas. Situs
bisa diakses dengan motor dan berjalan kaki.
Foto
15 Situs Batu Palantikang (Doc: Monira 2018)
Foto
16 Situs Batu Palantikang (Doc: Monira 2018)
3.3.3
Deskripsi Temuan
Panjang
situs 3m dan lebar 3,50m, bagian bangunan atas tidak mengalami kerusakan tembok
yang terbuat dari semen dan pasir, Bangunan ini berwarna abu-abu berbahan dasar
semen, pasir serta batu kerikil. Sebelah selatan lingkungan situs terdapat
kebun, sebelah utara terdapat pemukiman dan jalan setapak, sebelah timur
terdapat kebun karet, sebelah barat terdapat rumah panggung yang tidak
berpenghuni. Temuan berupa batu berbentuk lingkaran dan dililiti benang putih
berdiameter lebar 28cm dan tinggi 64cm dan diatas batu terdapat tulang serta
retakan di arah utara di sekeliling batu terdapat 4 tiang yang terbuat dari
kayu dan diliti daun pinang pada bagian atas tiang terdapat usunan kayu yang
mengarah timur dan barat dan pada bagian atas susunan kayu terdapat buah kelapa
kering yang telah dibelah Vegetasi yang
berada di sekitar situs adalah pohon karet, pohon jati, pohon pisang, dan
tumbuhan liar. Batu tujua memiliki motif dan ornamen yang tidak teridentifikasi
berbentuk lingkaran serta ditumbuhi lumut dan terdapat sebuah retakan.
Foto
18 Temuan Batu Palantikang (Doc:monira 2018)
Foto
19 Temuan Batu Palantikang (Doc:monira 2018)
Foto
20 Temuan Batu Palantikang (Doc:monira 2018)
3.4
Situs Makam Topanritae ri Sampeang
3.4.1
Deskripsi Lingkungan
Secara
astronomis situs ini terletak pada titik koordinat 5o 25’20,8’’ LS dan
120o 12’ 58” BT di Desa bontoharu, Dusun
risampeang, RK 0.4 kecamatan Bulukumpa, kabupaten Bulukumba. Pada sisi utara
situs bersebelahan dengan desa Salassae, sisi timur bersebelahan dengan dusun
Karama, sisi selatan bersebelahan dengan desa Bontowanrianging, sisi barat
bersebelahan dengan desa Bontoharu.
.
Vegetasi yang terdapat pada situs yaitu pohon nangka, pohon rambutan,
teridentifikasi. Fauna yang terdapat juga hewan ternak dan unggas. Situs bias
diakses dengan motor dan berjalan kaki.
Foto
21 Lingkungan Topanritae ri Sampeang
Sisi Barat (Doc: Monira 2018)
3.4.2
Deskripsi Situs
Situs
ini berada di dataran tinggi di Desa bontoharu, risampeang, RK 0.4 kecamatan
Bulukumpa, kabupaten Bulukumba. Pada sisi utara situs terdapat kebun,sisi timur
terdapat makam dan sumur,sisi barat terdapat makam dan jalan setapak menuju
kuburan di sisi selatan terdapat jalan lokal dan pemukiman penduduk.
Foto
22 Situs Topanritae Ri Sampeang (Doc:monira 2018)
3.4.3 Deskripsi
Temuan
Di
situs ini terdapat 3 jenis makam yang
berbeda bentuknya dari segi jirad, nisan, gunungan. Yang diambil untuk sampel
hanya dua:
- Sampel
1
Makam
tersebut terdiri dari jirat dan sebuah nisan. Jiratnya terbuat dari beton
dengan ukuran panjang 114cm, lebar 60cm dan tinggi 7cm. jirad makam ini
berwarna abu-abu dan bertekstur kasar pada bagian atas nisan terdapat bagian
yang rusak.
Foto
24 Sampel 1, KompleksTopanritae ri Sampeang (Doc: Monira 2018)
- Sampel
2
Bentuk
makam tersebut persegi panjang, terdiri dari jirad dan dua buah nisan. Jiradnya
terbuat dari bahan tegel dan memiliki panjang 137cm, lebar 79cm, dan tinggi
42cm. terdapat warna emas dibagian atas jirad dan warna putih di setiap
sisinya. Nisannya memiliki tinggi 29cm, panjang 15cm dan tebal 12cm. nisannya
terbuat dari batu berbentuk balok dan berwarna hitam. Pada nisan tersebut
terdapat ragam hias yang membentuk garis vertical. Nisan pada makam ini
memiliki tekstur halus sama halnya dengan jiradnya bertekstur halus.
Foto
25 Sampel 2, Kompleks Makam Topanritae ri Sampeang (Doc: Monira 2018)
3.5
Situs Kompleks Makam Galla’ Puto Bengeng
3.5.1
Deskripsi Lingkungan
Secara
astronomis situs ini terletak di titik koordinat 5o 19’ 26,3” LS dan 120o 18’
3” BT di Dusun Benteng, Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba,
provinsi Sulawesi Selatan. Pada sisi utara bersebelahan dengan batu Nilamung,
sisi selatan bersebelahan dengan dusun Berayyah, sisi barat bersebelahan dengan
dusun Benteng, sisi timur bersebelahan dengan dusun Jonayyah.
Vegetasi
yang terdapat pada situs yaitu pohon kamboja, pohon bambu, serta bunga-bunga
yang tidak teridentifikasi. Adapun fauna yang terdapat sekitar situs yaitu
kupu-kupu, hewan ternak, dan anjing.
3.5.2
Deskripsi Situs
Situs
ini terletak pada Dusun Benteng, Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten
Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Situs ini berada di dataran rendah dan
disekitarnya terdapat makam. Pada sisi
selatan situs terdapat jalan setapak dan pepohonan, sisi utara terdapat kebun,
sisi timur terdapat pohon karet dan pohon bambu, sisi barat terdapat hutan.
Sisi utara terdapat pemukiman, sisi selatan terdapat pemukiman, sisi timur
terdapat jalan setapak, sisi barat terdapat kebun jagung.
Kondisi
situs tidak terawatt terlihat dari rumpu-rumput yang ada disekitar makam hampir
menutupi makam tersebut, juga bangunan makam yang dulunya berfungsi sebagai
penutup makam telah hancur, atap serta tiang sebelah timur tidak ada lagi.
Situs ini biasa diakses dengan berjalan kaki terkhusus apabila ingin memasuki kajang dalam.
3.5.3
Deskripsi Temuan
Nisan
berbentuk menhir dan bahannya dari bebatuan besar. Nisan pada makam terdapat
lubang. Terdapat batu yang disusun membentuk persegi panjang di sekeliling
batas makam, gunungan pada makam terdapat arsiran garis. Terdapat kayu yang
lapuk bekas rangka bangunan, tiang dan atapnya sudah tidak ada. Bagian utara
makam terdapat tiga makam yang sejajar dengan makam Gala Puto Bengang. Jirat
makam memiliki panjang 126 cm, lebar 6,5 cm, tinggi 15,5 cm, dan tebal jirad
14cm. Nisan pada makam memiliki ketebalan 20,2 cm, lebar 48cm, panjang 146cm.
Gunungan memiliki lebar 90cm dan tinggi 48cm tebal 12cm. Panjang sekeliling
makam 150,3 m. Panjang atas antar makam 3,70 m.
Gambar
02. Temuan Galla Puto
3.6
Situs Kompleks Makam Tanah Towa
3.6.1
Deskripsi Lingkungan
Secara
astronomis situs ini terletak di titik koordinat 50 19’ 26,3” LS dan 120o 18’
3” BT di Dusun Benteng, Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.
Situs ini berbatasan dengan desa Batu Nilamung pada bagian utara, desa Lurayya
pada bagiaan selatan, dusun So’bu pada bagian barat, dan dusun Jannayya pada
bagian timur.
Vegetasi
yang terdapat di sekitar situs pohon bambu, pohon jati, pohon kelapa,bunga
kamboja. Fauna yang terdapat di situs adalah ayam yang merupakan peliharaan
warga dan anjing. Akses menuju situs ini adalah berjalan kaki.
3.6.2
Deskripsi Situs
Sebelah
utara terdapat makam, pepohonan, jalan setapak dan pemukiman, Selatan terdapat
juga makam dan kebun, Sebelah barat terdapat pohon kelapa, bunga yang jenisnya
yang tidak teridentifikasi. Sebelah timur terdapat pemukiman. Situs tersebut
tidak terawat karena terdapat banyak sampah dan dedaunan kering.
3.6.3
Deskripsi Temuan
Pada
situs ini terdapat banyak makam yang berbeda, namun yang dijadikan sampel dua
temuan.
-
Sampel Situs Makam Ammatowa 1 (Boesallang)
Nisan
yang digunakan adalah nisan menhir, ukuran tidak teridentifikasi karena pada
saat pengambilan data, dilarang untuk mengukur makam tersebut. Pada bagian nisannya
terdapat tulisan lontara. Pada bagian gunungan berbentuk segitiga dengan adanya
gelombang pada pertengahan, makam terdapat bambu yang artinya makam itu telah
dibersihkan. Arah makam adalah arah barat laut. Bagian atas makam terdapat
pohon kamboja.
Gambar
03.Temuan Makam Ammatowa
- Sampel
Situs Makam Karaeng Sobbu
Nisan
pada makam ini berbentuk menhir dan pada permukaan nisan terdapat motif
simetris dan dengan gambar yang menyerupai orang. Gunungan pada makam berbentuk
dasar segitiga dan luarannya bergelombang. Dan jiradnya adalah susunan batu
yang pada bagian timur terdapat lumut. Ukuran makam tidak teridentifikasi.
Gambar
04. Temuan Makam Karaeng Sobbu
3.7
Situs Kompleks Makam Mattu Dg. Pahakang
3.7.1
Deskripsi Lingkungan
Secara
astronomis situs ini berada pada titik koordinat 050 20’ 27,0” LS dan 1200 19’ 28,4” BT di Desa
Lembbanna, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan.
Situs ini berbatasan dengan desa Tana Toa pada bagian utara, dusun Lembanna
pada bagiaan selatan, desa Tambangang pada bagian barat, dan desa Bettarannu
pada bagian timur. Vegetasi yang ada pada situs adalah pohon mangga, pohon
kelapa,
Foto
26 Lingkungan Mattu Dg. Pahakang (Doc:
Imam 2018)
3.7.2
Deskripsi Situs
Situs
ini berada pada Desa Lembanna, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, provinsi
Sulawesi Selatan. Situs ini berada di dataran tinggi. Di sisi utara terdapat hutan dan pemukiman,
sisi barat terdapat pemukiman, sisi timur terdapat makam dan jalan lokal, sisi
selatan terdapat pemukiman. Kondisi situs tidak terawat karena banyak
rerumputan serta sampah plastik. Situs ini bisa diakses dengan mobil, motor,
dan berjalan kaki.
Foto
27.Situs Kompleks Makam Dg Pahakang (Doc:imam 2018)
Foto
28.Situs Kompleks Makam Dg Pahakang (Doc:imam 2018)
3.7.3
Deskripsi Temuan
Pada
situs ini banyak terdapat makam yang berbeda gunungan, jihad, nisan yang dapat
dijadikan sampel. Berikut makam yang dideskripsikan, antara lain:
1) Sampel
1
Nisannya
berbentuk balok dengan tinggi 111cm,
lebar 14cm,dan tebalnya 21cm. gunungan memiliki lebar 51cm, tinggi 61cm dan
tebal 8cm terdapat retakan pada kedua gunungan tersebut. jiradnya memiliki
panjang 86cm, tinggi 32cm, dengan ketebalan 7cm. kondisi makam masih utuh namun
dipenuhi oleh lumut.
Foto
29.Sampel 1, Kompleks Makam Dg Pahakang (Doc:imam 2018)
2) Sampel
2
Nisannya
berbentuk pipih dengan tinggi 64cm, lebar 15cm, dan tebal 10cm. menghadap utara
dengan motif garis. Jiradnya memiliki panjang 71cm, lebar 32 cm, tebal 8cm.
gunungannya memiliki tinggi 47cm, lebar 39cm tebal 7cm. kondisi makam dipenuhi
lumut, gunungannya roboh begitupu dengan jiradnya.
Foto
30.Sampel 2, Kompleks Makam Dg Pahakang ( (Doc:imam 2018)
3) Sampel
3
Nisan
berbentuk balok memiliki tinggi 72cm, lebar 21cm, memiliki motif bergaris dan
ornament serta terdapat bagian runcing pada bagian atas dengan diameter 5 cm.
jirad pada makam memiliki panjang 70cm, tinggi 10cm, tebal 8cm. tinggi gunungan
40cm, lebar 20cm, dan tebal 9cm memiliki retakan pada bagian atasnya. Kondisi
makam hampir tidak terlihat karena ditumbuhi semak belukar dan rerumputan
kering.
Foto
31 Sampel 3, Kompleks Makam Dg. Pahakang (Doc. Imam 2018)
4) Sampel
4
Nisan
pada makam ini berbentuk balok memiliki tinggi 155cm, lebar 19cm, tebal 12cm.
memiliki lubang pada bagian atasnya serta terdapat motif bergaris. Gunungan
memiliki tinggi 62cm, lebar 68cm, tebal 10cm. memiliki ragam hias pada bagian
luar gunungan. Gunungan tinggal satu karena yang disebelahnya roboh. Jiradnya
memiliki panjang 104cm, tinggi 42cm, dan tebal 10cm dan memilki ragam hias
berbentuk gelombang. Kondisi makam dipenuhi oleh lumut, dedaunan kering, dan
rerumputan.
Foto
32 Sampel 4, Kompleks Makam Dg. Pahakang (Doc. Imam 2018)
3.8
Kompleks Makam Tontang Dg. Matarrang
3.8.1
Deskripsi Lingkungan
Secara
astronomis situs ini berada pada titik koordinat 05o 20’ 01,2” LS dan 120o 19’
35,4” BT di Desa Kassi, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, provinsi
Sulaawesi Selatan. Pada sisi utara bersebelahan dengan dusun Raowa 2, sisi
selatan berseelahan dengan dusun Raowa, sisi barat bersebelahan dengan desa
Salakolaarowa, sisi timur bersebelahan dengan desa Padang.
Vegetasi
pada situs yaitu pohon beringin, pohon kelapa, pohon jambu biji, pohon pisang,
pohon bamboo dan pepohonan yang tidak teridentifikasi. Adapun fauna burung.
3.8.2
Deskripsi Situs
Situs
ini terdapat pada Desa Kassi, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, provinsi
Sulawesi Selatan. Pada sisi utara situs terdapat pemukiman dan jalanan lokal,
sisi selatan terdapat kebun dan jalan lokal, sisi barat terdapat makam dan juga
kebun, sisi timur terdapat pepohonan dan pemukiman. Adapun populasi makam
berjumlah 118 terdapat 35 makam tua dan 93 makam baru. Kondisi situs terawat
dengan tidak adanya sampah yang berserakan hanya dedaunan dari pohon bambu yang
terdapat di permukaan. Akses ke situs dengan berjalan kaki menaiki tangga yang
berjumlah 36 buah.
Foto
34 Situs Kompleks Makam Tontang Dg
Matarang (Doc:mega 2018)
Foto
35 Situs Kompleks Makam Tontang Dg
Matarang (Doc:mega 2018)
3.8.3 Deskripsi
Temuan
Pada
situs ini terdapat banyak makam yang berbeda bentuknya baik itu jirad, nisan,
maupun gunungannya. Namun yang kami lampirkan hanya 4 sampel, antara lain:
1) Sampel
1
Nisan
berbentuk silindrik dengan tinggi 131cm, lebar 31cm, panjang nisan 40cm yang
memiliki 8 sisi dengan gunungan yang berbentuk mahkota segitiga temuan ini
ditumbuhi lumut dan jirad berbentuk persegi panjang menghadap utara. Panjang
jirad 141cm, lebar 63cm, tinggi 22cm. Tinggi gunungan 61cm, lebar 10cm dan
panjang 50cm.
Foto
36 Sampel 1, Kompleks Makam Tontang Dg
Matarang (Doc: Mega 2018)
2) Sampel
2
Nisan
berbentuk balok tinggi 8,6cm, lebar 7,5 cm dengan diatasnya dipahat. Terdapat 2
nisan di kuburan ini berbentuk segitiga yang dipahat 4 sisi.
Foto
37 Sampel 2, Kompleks Makam Tontang Dg
Matarang (Doc: Mega 2018)
3) Sampel
3
Gunungan
makam memiliki tinggi 36cm, lebar 44cm. Nisan ini berbentuk pallus panjang
nisan 135cm, lebar 20cm dan nisan yang kedua memilki tinggi 86cm dan lebar
18cm. jirad berbentuk persegi empat dengan panjang 101cm, lebar 11cm. gunungan
makam ini dasarnya segitiga, namun luarnya bergelombang.
Foto
38 Sampel 3, Kompleks Makam Tontang Dg
Matarang (Doc: Mega 2018)
4) Sampel
4
Gunungan
makam memiliki panjang 51cm, lebar 48cm. jirad lebarnya 7cm, makam ini
ditumbuhi oleh rerumputan liar dengan ukuran 107cm. Nisan yang berbentuk menhir
memiliki tinggi 87cm memilki 8 sisi mengarah pada utara selatan.
Foto
39 Sampel 4, Kompleks Makam Tontang Dg
Matarang (Doc: Mega 2018)
3.9
Situs Kompleks Makam Tobo Dg. Marappa
3.9.1
Deskripsi Lingkungan
Secara
astronomis situs ini terletak di titik koordinat 05o 19’ 22,9” LS dan 120o 21’ 97” BT di Desa Kassi, kecamatan Kajang,
Kabupaten bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan.
Situs ini berbatasan dengan desa Tarongkolang pada bagian utara, Pasar
Tua pada bagiaan selatan, desa Tapijeng pada bagian barat, desa Enre Bulang
pada bagian timur. Vegetasi pada situs yaitu
pohon mangga, pohon pisang, pohon kelapa.
Foto
40 Lingkungan Tobo Dg Marappa (Doc:Mega 2018)
3.9.2
Deskripsi Situs
Situs
terletak pada Desa Kassi, kecamatan Kajang, Kabupaten bulukumba, provinsi
Sulawesi Selatan. Situs berada di dataran tinggi dan terawat karena tidak
terdapat rerumputan. Pada sisi utara
situs terdapat pemukiman dan muara sungai, sisi timur juga terdapat pemukiman,
sisi selatan terdapat pemukiman dan jalan poros dan sisi barat terdapat bukit.
Populasi makam berjumlah 250, terdapat 68 makam tua dan 31 makam baru. Ditengah
situs terdapat pohon yang bernama Rita seperti disebutkan warga sekitar. Akses
ke situs dengan menggunakan mobil, motor, dan berjalan kaki.
Foto
41 Situs Tobo Dg Marappa (Doc:Mega 2018)
3.9.3
Deskripsi Temuan
Pada
situs ini kami mengambil 5 sampel makam yang dideskripsikan, sebagai berikut :
1) Sampel
1
Memiliki
gunungan makam 71cm dan Nisan berbentuk menhir memiliki ukuran 57cm dan
terdapat 4 sisi pada gunungan makam.
Foto
42 Sampel 1, Kompleks makam Tobo Dg Marappa (Doc:Mega 2018)
2) Sampel
2
Panjang
gunungan 70cm, lebar 45cm. Nisan berbentuk pipih dengan panjang 45cm dan pada
makam ini terdapat dua nisan yang sama bentuknya. pada permukaan makam terdapat
daun pandan. Pada nisan terdapat gambar kepala, badan dan dibawah terdapat
pahatan.
Foto
43 Sampel 2, Kompleks makam Tobo Dg Marappa (Doc:Mega 2018)
3) Sampel
3
Jirad
memiliki panjang 100cm dan lebar 9cm. nisan memiliki tinggi 89cm dan lebar 26cm
berbentuk pipih dengan pahatan diatasnya dan memiliki motif putih tidak
beraturan. Gunungan memiliki lebar 48cm dan tinggi 47cm.
Foto
44 Sampel 3, Kompleks makam Tobo Dg Marappa (Doc: Mega 2018)
DISUSUN OLEH: ST. NURUL HUDAYA
Numpang promo ya Admin^^
BalasHapusayo segera bergabung dengan kami di ionqq^^com
dengan minimal deposit hanya 20.000 rupiah :)
Kami Juga Menerima Deposit Via Pulsa & E-Money
- Telkomsel
- XL axiata
- OVO
- DANA
segera DAFTAR di WWW.IONPK.CLUB :-*
add Whatshapp : +85515373217 ^_~