BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Seperti
di ketahui manajemen pada dasarnya merupakan proses pengambilan
keputusan yang berkaitan dengan perencanaan pengorganisasian pengarahan dan
pengendalian yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Sejalan dengan
itu maka manajemen produksi merupakan proses pengambilan keputusan didalam
usaha untuk menghasilkan barang atau jasa sehingga dapat sasaran yang berupa
tepat waktu, tepat mutu, tepat jumlah dengan biaya yang efisien, oleh karena
itu manajemen produksi mengkaji pengambilan keputusan dalam fungsi produksi.
Pelaksanaan
kegiatan manajemen merupakan tanggung jawab seorang manajer diartikan
sebagai orang yang bertanggung jawab lebih besar dari pada apa yang dia dapat
lakukan sendiri. Sehingga membutuhkan bantuan orang lain dalam mencapai tujuan
organisasi, sedangkan manajer produksi yang akan menentukan keberhasilan
organisasi perusahaan sebagai produsen yang baik, selanjutnya keberhasilan
usaha suatu perusahaan dalam mencapai tujuan dan sasarannya ditentukan oleh
kemampuan manajer produksi, serta kemampuan manajer pemasaran dan manajer
keuangan disamping kemampuan majemen puncak atau direksi untuk menciptakan
hasil sinergi dari seluruh kegiatan bersama perusahaan.
Dalam
melakukan kegiatan produksi ada berbagai faktor yang harus dikelola yang sering
disebut sebagai faktor-faktor produksi yaitu : Material atau bahan, Mesin atau
peralatan, Manusia atau karyawan, Modal atau uang, Manajemen yang akan
memfungsionalisasikan keempat faktor yang lain. Dengan demikian manajemen
operasi berkaitan dengan pengelolaan faktor-faktor produksi sedemikian rupa
sehingga keluaran (output) yang dihasilkan sesuai dengan permintaan konsumen
baik kualitas, harga maupun waktu penyampaiannya.
Sekilas
telah disebutkan dari uraian di atas bahwa manajemen produksi operasi
bertanggung jawab atas dihasilkannya keluaran (output) baik yang berupa produk
maupun jasa yang sesuai dengan permintaan dan kebutuhan konsumen dengan
kualitas yang baik dan harga yang terjangkau serta disampaikan tepat pada
waktunya.
B. Rumusan
Masalah
Dilihat
dari latar belakang diatas adapun rumusan masalahnya, yaitu:
1. Apa pengertian produksi ?
2. Apa saja fungsi produksi ?
3. Apa pengertian manajemen produksi ?
4. Apa pengertian produktivitas ?
5. Bagaimana karakteristik produksi modern ?
6. Bagaimana proses produksi ?
C. Tujuan
Penulisan
Tujuan
utama pembuatan makalah ini untuk memenuhi nilai mata kuliah Manajemen Bisnis.
Selanjutnya untuk memaparkan pengertian produksi dan manajemen produksi,
menjelaskan bagaimana proses produksi dan mengetahui karakteristik produksi
modern.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Produksi dan Fungsi Produksi
Produksi
adalah segala kegiatan dalam menciptakan dan menambah kegunaan (utility) suatu
barang atau jasa yang membutuhkan faktor-faktor produksi berupa tanah, modal,
tenaga kerja, dan skills (organizational, managerial and technical skills).
Kegiatan produksi untuk menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan benda
baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan.
Kegiatan
menambah daya guna suatu benda tanpa mengubah bentuknya dinamakan
produksi jasa. Sedangkan kegiatan menambah daya guna suatu
benda dengan mengubah sifat dan bentuknya dinamakan produksi barang. Produksi
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran
dapat tercapai jika tersedia barang dan jasa dalam jumlah yang mencukupi. Orang
atau perusahaan yang menjalankan suatu proses produksi disebut Produsen.
Produksi
diartikan usaha menciptakan barang dan jasa yang menambah kegunaan (utiliy).
Ada 4 kegunaan (utility) yang timbul dari produksi ini yaitu :
1. Form utility (Kegunaan Bentuk)
Peningkatan
kegunaan dari suatu benda antara lain dapat disebabkan oleh perubahan
bentuknya. contoh : nilai guna dari sebuah lempengan besi relatif rendah, namun
jika lempengan besi tersebut ditempa menjadi sebuah pisau, maka nilai gunanya
akan menjadi lebih besar.
1. Place utility (Kegunaan Tempat).
Pertambahan
kegunaan dari suatu benda antara lain dapat karena dipindahkan dari suatu
tempat ke tempat lain. Contoh : sebuah mantel yang tebal tidak banyak gunanya
jika dipakai di daerah tropis, namun jika dipakai di daerah dingin maka akan
lebih terasa manfaatnya.
1. Time utility (Kegunaan Waktu)
Kegunaan
suatu benda bertambah jika benda itu dipakai pada waktu-waktu yang tepat dan
sesuai dengan manfaat benda tersebut. Contoh : payung akan lebih berguna jika
dipakai pada waktu hujan atau saat hari terik.
1. Posession utility (Kegunaan Kepemilikan) .
Kegunaan
suatu benda baru terasa bila telah ada pemiliknya, atau dimiliki oleh konsumen
yang tepat. Contoh : tanah yang kosong dan terbengkalai tidak akan memiliki
manfaat, tetapi tanah tersebut baru membawa manfaat bila dimiliki dan diolah
oleh manusia yang bisa mengolah tersebut.
Sebelum
membahas tentang fungsi produksi, perlu diketahui beberapa bagian yang
mendukung fungsi produksi tersebut. Bagian produksi adalah suatu bagian yang
ada pada perusahaan yang bertugas untuk mengatur kegiatan-kegiatan yang
diperlukan bagi terselenggaranya proses produksi. Dengan mengatur kegiatan itu
maka diharapkan proses produksi akan berjalan lancar dan hasil produksi pun
akan bermutu tinggi sehingga dapat diterima oleh masyarakat pemakainya. Bagian
produksi dalam menjalankan tugasnya tidaklah sendirian akan tetapi bersama-sama
dengan bagian-bagian lain seperti bagian pemasaran, bagian keuangan serta
bagian akuntansi. Oleh karena itu haruslah diadakan koordinasi kerja agar semua
bagian dapat berjalan seiring dan seirama dan dapat dihindarkan
benturan-benturan kepentingan antar bagian dalam perusahaan.
Tanpa
adanya perencanaan yang matang, pengaturan yang bagus serta pengawasan akan
mengakibatkan jeleknya hasil produksi. Di samping hasil produksi yang harus
bagus kwalitasnya juga harus di pikirkan pula agar jangan sampai terjadi hasil
produksi bagus tapi ongkos yang diperlukan untuk keperluan itu terlalu besar.
Biaya produksi yang terlalu tinggi akan berakibat harga pokok produksinya
menjadi besar dan hal ini akan mengakibatkan tingginya harga jual produk,
sehingga akan tidak terjangkau oleh konsumen. Inilah yang merupakan tugas dari
bagian produksi. Tugas-tugas tersebut akan dapat terlaksana dengan baik
dengan mengacu pada pedoman kerja tertentu. Pedoman kerja yang harus menjadi
arah kerja bagi bagian produksi dapat dirumuskan dalam empat hal yaitu : tepat
Jumlah, Tepat Mutu, Tepat Waktu dan Tepat Ongkos/Harga.
Jumlah
produk yang dihasilkan haruslah direncanakan dengan baik agar tidak terlalu
banyak maupun terlalu sedikit. Bila produksi terlalu banyak tentu saja akan
mengakibatkan bertumpuknya hasil produksi di gudang. Hal ini akan mengakibatkan
disamping barang tersebut akan mengalami kerusakan dalam penyimpanannya, maka
penumpukan tersebut berarti banyak modal yang tertanam dalam barang jadi itu
berhenti dan menjadi kurang efektif. Dengan pedoman pada empat hal tersebut
maka bagian produksi akan dapat mencapai sasarannya dengan baik. Keempat hal
tersebut dapat dikenal dengan mudah sebagai “empat tepat”.
Assauri
(1993:30) memberikan definisi atau pengertian fungsi produksi adalah sebagai
pertanggungjawaban dalam pengolahan dan pentransformasian masukan (inputs)
menjadi keluaran (outputs) berupa barang atau jasa yang akan dapat
memberikan hasil pendapatan bagi perusahaan. Untuk melaksanakan fungsi tersebut
diperlukan serangkaian kegiatan yang merupakan keterkaitan dan menyatu serta
menyeluruh sebagai suatu sistem. Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan fungsi
produksi ini dilaksanakan oleh beberapa bagian yang terdapat dalam suatu
perusahaan, baik perusahaan itu berupa perusahaan besar, maupun perusahaan itu
adalah perusahaan kecil. Empat fungsi terpenting dalam fungsi produksi dan
operasi adalah:
1. Proses pengolahan, merupakan metode atau
teknik yang digunakan untuk pengolahan masukan (inputs)
2. Jasa-jasa penunjang, merupakan sarana yang
berupa pengorganisasian yang perlu untuk penetapan teknik dan metode yang akan
dijalankan, sehingga proses pengolahan dapat dilaksanakan secara efektif dan
efisien.
3. Perencanaan, merupakan penetapan keterkaitan
dan pengorganisasian dari kegiatan produksi dan operasi yang akan dilakukan
dalam suatu dasar waktu atau periode tertentu
4. Pengendalian atau perawatan, merupakan fungsi
untuk menjamin terlaksananya kegiatan sesuai dengan yang direncanakan, sehingga
maksud dan tujuan untuk penggunaan dan pengolahan masukan (inputs) pada
kenyataannya dapat dilaksanakan.
Everett
dan Ebert (1992:5) memberikan definisi atau pengertian fungsi produksi dengan
mengatakan sebagai berikut :”Economic refer to this transformation of
resources into goods and services as the production function for all operation
systems the general goals is to create some kinds of value added,
so that the output are worth more to consumers than just the sun of the
individual inputs. ”
Jadi fungsi produksi merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan atau menambah
kegunaan suatu barang, mengubah sesuatu yang nilainya lebih rendah menjadi
sesuatu yang memiliki nilai lebih tinggi dengan menggunakan sumber daya yang
ada, seperti bahan baku, tenaga kerja, mesin dan sumber-sumber lainnya,
sehingga produk yang dihasilkan dapat memberikan kepuasan pada konsumen. Dengan
demikian untuk membuktikan apakah produksi tersebut telah berjalan atau tidak,
maka diperlukan suatu pemeriksaan yaitu pemeriksaan manajemen. Sedangkan programpemeriksaan manajemen pada fungsi produksi
yang akan dilakukan adalah perencanaan dan pengendalian produksi, tenaga kerja
produksi, fasilitas produksi, dan pelaksanaan proses produksi.
Fungsi
produksi dapat mencerminkan keadaan teknologi penggunanya, baik itu perusahaan,
industri, maupun perekonomian secara umum. Perubahan penggunaan teknologi akan
mengubah bentuk fungsi produksi. Misalnya, perusahaan memproduksi sepatu. Dalam
fungsi produksi, sepatu itu bisa diproduksi dengan berbagai macam cara. Kalau
salah satu komposisi faktor produksi diubah begitu saja, maka hasilnya akan
berubah. Namun, output akan tetap sama apabila perubahan satu faktor produksi
diganti dengan faktor produksi lainnya.
B. Pengertian
Manajemen Produksi
Secara harfiah, Manajemen Produksi terbangun atas dua kata, yaitu Manajemen dan
Produksi. Manajemen memiliki dua makna, manajemen sebagai posisi dan manajemen
sebagai proses. Manajemen Produksi dapat diartikan sebagai kegiatan yang
berhubungan dengan perencanaan, pengkoordinasian, penggerakan, dan pengendalian
aktivitas organisasi atau perusahaan bisnis atau jasa yang berhubungan dengan
proses pengolahan masukan (input, sumber daya produksi) menjadi keluaran
(output, produk barang maupun jasa) dengan nilai tambah yang lebih besar. Dari
pengertian tersebut, Manajemen Produksi memiliki beberapa unsur utama, yaitu:
1. Manajemen Produksi adalah sebuah proses
manajemen, sehingga kegiatannya berawal dari aktivitas perencanaan dan berakhir
pada aktivitas pengendalian.
2. Manajemen Produksi mengkaji kegiatan
pengolahan masukan menjadi keluaran tertentu, baik barang maupun jasa.
3. Manajemen Produksi bertujuan untuk memberikan
nilai tambah atau manfaat lebih besar kepada organisasi atau perusahaan.
4. Manajemen Produksi adalah sebuah sistem yang
terbangun dari subsistem masukan, subsistem proses pengolahan, dan subsistem
keluaran.
Selanjutnya, kita perlu malihat definisi Manajemen Produksi atau Operasinal
sebagai suatu tipe ilmu manajemen dari manajemen fungsional perusahaan menurut
pandangan para pakar Manajemen Produksi atau Operasional. Menurut Chase dan
Aquilano (1995), Chase, Aaquilano dan Jacobs (2001), Russel dan Taylor (2000),
Adam dan Ebert (1992) pada pokoknya merupakan sejumlah kegiatan yang
berhubungan dengan pendesainan, kegiatan transformasi (operations), dan
perbaikan sistem yang berfungsi untuk menciptakan dan menyerahkan keluaran yang
dihasilkan oleh perusahaan, baik produk barang maupun jasa.
Pembuatan
keputusan merupakan elemen penting manajemen operasi dan produksi. Pembuatan
keputusan dapat dipandang dari berbagai perspektif yang berbeda. Pembuatan
keputusan merupakan keseluruhan proses pencapaian suatu keputusan dari
idetifikasi awal melalui pengembangan dan penilaian alternatif-alternatif
sampai pemilihannya.
Proses
pembuatan keputusan diawali dengan perumusan masalah yang
dilakukan dengan menguji hubungan sebab-akibat, mencari
penyimpangan-penyimpangan, dan yang paling penting adalah berkonsultasi dengan
pihak lain. Selanjutnya pengembangan alternatif-alternatif dengan
mengumpulkan analisa data yang relavan. Dari data tersebut ditentukan
alternatif dikembangkan sebelum diambil suatu keputusan.
Setelah
dikembangkannya alternatif maka langkah selanjutnya adalah evaluasi
alternatif-alternatif yang tergantung pada kriteria pemilihan
keputusan yang tepat. Evaluasi alternatif dipermudah dengan penggunaan
model-model matematik formal. Ini memungkinkan pembuat keputusan untuk
mengkuantufikasikan kriteria dan batasan-batasan serta mengevaluasi berbagai
alternatif berdasarkan kerangka model. Pemilihan alternatif dilakukan
untuk mengevaluasi alternatif-alternatif untuk mempermudah alternatif yang
tinggi. Alternatif yang terpilih sering hanya berdasarkan jumlah informasi
terbatas yang tersedia bagi manajer dan ketidaksempurnaan keputusan manajer.
Pilihan alternatif terbaik pun sering merupakan komprom berbagai faktor yang
dipertimbangkan.
Implementasi
keputusan. Suatu keputusan belum
selesai sebelum diterapkan dalam praktek. Langkah ini sama krusialnya dengan
proses pembuatan keputusan secara keseluruhan. Pemahaman akan perubahan organisasional
adalah kunci sukses implementasi. Implementasi tidak sekedar menyangkut
pemberian perintah, namun dalam hal ini manajer harus menetapkan jadwal
kegiatan atau anggaran, mengadakan dan mengalokasikan sumberdaya yang
diperlukan serta melimpahkan wewenang dan tanggungjawab tertentu.
Melihat
pengertian Manajemen Produksi atau Operasional menurut para pakar di atas, maka
ada tiga kategori keputusan atau kebijakan utama yang tercakup di dalamnya,
yaitu sebagai berikut:
1. Keputusan atau kebijakan mengenai desain.
Desain dalam hal ini tergolong tipe keputusan jangka panjang, dan dalam arti
yang luas meliputi penentuan desain dari produk yang akan dihasilkan, desain
atas lokasi, dan tata letak pabrik, desain atas kegiatan pengadaan masukan yang
diperlukan, desain atas metode dan teknologi pengolahan, desain atas organisasi
perusahaan, dan desain atas job description dan job specification.
2. Keputusan atau kebijakan mengenai proses
transformasi (operations). Keputusan produksi atau operasi ini berjangka
pendek, berkaitan tentang keputusan taktis dan operasi. Di dalamnya terkait
jadwal produksi, gilir kerja (shift) dari personil pabrik, anggaran produksi,
jadwal penyerahan masukan ke subsistem pengolahan, dan jadwal penyerahan
keluaran ke pelanggan atau penyelesaian produk.
3. Keputusan atau kebijakan perbaikan secara
terus-menerus dari sistem operasi. Karena sifatnya berkesinambungan
(terus-menerus), maka kebijaksanaan tersebut bersifat rutin. Kegiatan yang
tercangkup di dalamnya pada pokoknya meliputi perbaikan terus-menerus dari mutu
keluaran, keefektifan dan keefesinan sistem, kapasitas, dan kompetensi dari
para pekerja, perawatan sarana kerja atau mesin, serta perbaikan terus menerus
atas metode penyelesaian atau pengerjaan produk.
Berpijak
pada definisi tersebut maka Manajemen Produksi atau Opersional dibangun atas
tiga keputusan dan aktivitas utama, yaitu keputusan dan aktivitas desain,
transfrmasi, dan perbaikan terus-menerus atas sistem.
C. Pengertian
Produktivitas
Dalam
berbagai referensi terdapat banyak sekali pengertian, mengenai produktivitas
yang dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1. Rumusan tradisional bagi keseluruhan
produktivitas tidak lain ialah ”ratio” daripada apa yang dihasilkan (output)
terhadap keseluruhan peralatan produksi yang dipergunakan (input);
2. Produktivitas pada dasarnya adalah suatu
sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini
lebih baik daripada kemaren, dan hari esok lebih baik dari hari ini; dan
3. Produktivitas merupakan interaksi terpadu
secara serasi dari tiga fator; investasi termasuk penggunaan pengetahuan dan
teknologi, serta manajemen, dan tenaga kerja
Selanjutnya
J Ravianto (1986:2) mengemukakan, ”Produktivitas bukanlah ukuran produksi atau
keluaran yang diproduksi. Produktivitas adalah ukuran dari seberapa baik kita
menggunakan sumber daya dalam pencapaian hasil yang diinginkan. Hasil yang
didapatkan berhubungan dengan efesiensi dalam mendapatakan hasil dengan
menggunakan sumber daya yang minimal”.
Efektivitas
berfokus pada keluaran, dan efektivitas adalah seberapa baik (besar) dihasilkan
keluaran dari masukan sumber daya yang ada. Atau dapat dikatakan, seberapa
efektif sumber daya yang ada digunakan untuk mengahasilkan keluaran yang
optimal, atau efektif mendekati pengertian seberapa jauh kita mendayagunakan
masukan sumber daya yang ada. Sedangkan efisiensi berfokus pada masukan, dan
efisiensi adalah seberapa hemat masukan sumber daya digunakan untuk
menghasilkan keluaran yang ditentukan.
Secara
umum, sering produktivitas diartikan sebagai efisiensi penggunaan sumber daya
untuk menghasilkan keluaran. Produktivitas adalah fungsi dari efisiensi dan
efektivitas. Dengan demikian, kegiatan yang dilakukan secara efisiensi dan
efektif di dalam penggunaan sumber daya termasuk bahan-bahan, uang dan waktu
akan menghasilkan produktivitas yang relatif tinggi.
Jadi
produktivitas adalah ukuran sampai sejauh mana sumber-sumber daya disertakan
dan dipadukan dalam organisasi dan digunakan untuk mencapai kualitas dan jumlah
hasil produksi yang maksimal, sehingga produktivitas merupakan perpaduan antara
efektivitas dan efisiensi. Produktivitas juga harus dikaitkan secara langsung
dengan aspek-aspek kualitas, efektifitas, dan efisiensi. Dalam hal ini
produktivitas pencapaian tujuan pada tingkat kualitas tertentu (output) dan
efesiensi penggunaan sumber-sumber daya (input) (Vincent Gaspers, 1998: 33).
Panji
Anoraga (1998: 52) mengemukakan, ”Produktivitas adalah menghasilkan lebih
banyak, dan berkualitas lebih baik, dengan usaha yang sama. Dengan demikian
produktivitas tenaga kerja adalah efesiensi proses menghasilkan dari sumber
daya yang dipergunakan”.
Produktivitas
bukanlah membuat karyawan bekerja lebih lama atau lebih keras. Peningkatan
produktivitas lebih banyak merupakan hasil dari perencanaan yang tepat, dari investasi
yang bijaksana, dan teknologi baru, dari teknik yang lebih tinggi. Di luar ini,
produktivitas tergantung pada usaha yang penuh kesadaran dari tiap-tiap
karyawan. Kesediaan untuk bekerja secara memadai untuk gaji yang memadai.
Produktivitas menunjukkan
kegunannya dalam membantu mengevaluasi penampilan, perencanaan, kebijakan
pendapatan, upah, dan harga melalui identifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi distribusi pendapatan, membandingkan
sektor-sektor ekonomi yang berbeda untuk menentukan prioritas
kebijakan bantuan, menentukan tingkat pertumbuhan suatu sektor atau ekonomi.
John Suprihanto menyebutkan bahwa dalam produktivitas terkandung tiga hal
pokok, yaitu:
a)
Produktivitas diartikan sebagai kemampuan seperangkat sumber-sumber ekonomi untuk
menghasilkan sesuatu.
b)
Produktivitas adalah perbandingan antara pengorbanan (output) dengan
penghasi lan (input).
c)
Produktivitas adalah suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa
mutu kehidupan hari ini haruslah lebih baik hari kemarin dan hari esok harus
lebih baik dari hari ini.
Produktivitas
menurut Dewan Produktivitas Nasional mempunyai pengertian sebagai sikap mental
yang selalu berpandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari
kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Produktivitas mengandung arti
sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya
yang digunakan.
D. Karakteristik
Produksi Modern
Ciri-ciri
dari produksi modern ialah adanya spesialisasi, saling ketergantungan dan
produksi massal.
1. Spesialisasi
Jika
kita perhatikan bisnis ada yang hanya bergerak dalam memproduksi
barang-barang tertentu. Seperti membuat sepatu, membuat tekstil, membuat
ouderdil mobil, ada yang bergerak dalam bidang membuat barang (pabrik), ada
yang menjual barang saja (para pedagang) dan sebagainya. Demikian pula
dalam permbagian kerja sudah dijumpai spesialisasi jabatan.
Beberapa
produsen memusatkan diri pada pembuatan barang tunggal dan produsen lainnya
membatasi produksi pada suatu garis dari produk yang saling berhubungan.
Sebagai contoh pada industri manufaktur pembuatan sepeda motor, semua komponen
yang ada di sepeda motor tersebut tidak diproduksi seluruhnya tetapi sebagian
ada yang merupakan hasil produksi dari perusahaan lainnya sehingga setiap
perusahaan komponen tersebut akan saling berhubungan dan akan saling memberikan
informasi mengenai apa yang menjadi peluang pasar, disamping itu biaya produksi
akan menjadi lebih kecil dan yang paling utama adalah terjaganya kualitas
komponen. Spesialisasi dapat diartikan pula sebagai pembagian pekerjaan, ini berlaku
baik pada tingkat pekerja yang juga memiliki spesialisasi dalam hal ketrampilan
latar belakang pendidikan.
2. Interdependence (saling ketergantungan)
Karena
bisnis sudah bergerak dalam bidang tertentu, suatu perusahaan bergantung
kegiatannya pada perusahaan lain. Misalnva pedagang besar bergantung usahanya
kepada para produsen, dan dia bergantung pula kepada perusahaan angkutan yang
mengangkut barang. Dia juga sangat mernbutuhkan sarana telepon, pos dan listrik
yang dikerjakan oleh sektor lain.
3. Produksi massal.
Barang
dihasilkan dalam jumlah besar dan terus menerus dalam berbagai ukuran sehingga
mudah dipilih oleh konsumen. Produsen membuat barang untuk orang-orang yang
tidak dikenal. Oleh sebab itu, produsen harus mengetahui selera konsumen agar
produksi yang di buat secara massal mudah di pasarkan. Dengan adanya produksi
massal dan barangnya laku di pasar, akan timbul keuntungan baik bagi bisnis itu
sendiri maupun bagi masyarakat dan negara. Tenaga kerja akan lebih banyak
tertampung, pendapatan karyawan semakin meningkat. Demikian pula pendapatan
masyarakat bertambah, dan standar hidup juga semakin membaik.
4. Mekanisme
Karakteristik
yang juga dimiliki oleh industri modern adalah adanya mekanisasi. Mekanisasi
ini muncul setelah adanya revolusi industri yang merubah tenaga manusia dengan
menggunakan peralatan atau mesin-mesin dalam rangka mencapai tingkat
produktivitas yang lebih baik. Penggunaan mesin atau mekanisasi ini dapat
ditemui dalam semua aspek kehidupan dan tidak hanya dalam dunia industri
manufaktur. Perkembangan mekanisasi peralatan setiap waktunya mengalami
kemajuan yang sangat pesat, apabila pada awal dicetuskannya ide mekanisasi
hanya dititik beratkan pada penggantian tenaga manusia (ketrampilan tangan
manusia) saat ini tengah mulai dicoba untuk memasukkan sejumlah kecerdasan
buatan (intelligence) tertentu ke mesin. Dengan kecerdasan buatan ini mesin
atau peralatan sudah mulai tidak menggunakan bantuan manusia secara
keseluruhan, akan tetapi telah menerapkan sejumlah kecerdasan seperti
pengendalian numerical (numerical control), otomatisasi (automation),
keseragaman produk (variety) sehingga kualitas produk yang dihasilkan
memiliki kualitas yang lebih terkendali.
Dengan
kemajuan teknologi dalam bidang manufaktur tersebut mendorong manusia selalu
meningkatkan kemampuan proses dengan penemuan-penemuan dalam hal rekayasa
teknologi industry. Hal ini mendorong efisiensi dan keefektifan dalam
penggunaan material sehingga tidak banyak produk cacat sehingga peningkatan
kapasitas produksi dan meminimalkan penggunaan biaya dapat lebih terkendali.
E. Proses
Produksi
1. Pengertian
Proses Produksi
Proses
diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya
sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk
memperoleh suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau
menambah kegunaan barang atau jasa (Assauri, 1995). Proses juga diartikan
sebagai cara, metode ataupun teknik bagaimana produksi itu dilaksanakan.
Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan danan menambah kegunaan (Utility)
suatu barang dan jasa. Menurut Ahyari (2002) proses produksi adalah suatu cara,
metode ataupun teknik menambah keguanaan suatu barang dan jasa dengan
menggunakan faktor produksi yang ada.
Melihat
kedua definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa proses produksi
merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau
jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada seperti tenaga kerja, mesin,
bahan baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia.
Kegiatan
utama yang bersangkutan dengan manajemen produksi adalah proses produksi.
Proses produksi adalah metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah
kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber antara lain
tenaga kerja, bahan-bahan, dana dan sumberdaya lain yang dibutuhkan.
Produksi
merupakan suatu sistem dan di dalamnya terkandung tiga unsur, yaituinput,
proses, dan output. Input dalam proses produksi terdiri atas bahan baku/ bahan
mentah, energi yang digunakan dan informasi yang diperlukan. Proses merupakan
kegiatan yang mengolah bahan, energi dan informasi perubahan sehingga menjadi
barang jadi. Output merupakan barang jadi sebagai hasil yang dikehendaki
2. Jenis-jenis
Proses Produksi
Proses
produksi pada umumnya dapat dipisahkan menurut berbagai segi. Pemilihan sudut
pandang yang akan digunakan untuk pemisahan proses produksi dalam perusahaan ini
akan tergantung untuk apa pemisahan tersebut dilaksanakan serta penentuan tipe
produksi didasarkan faktor seperti volume atau jumlah produk yang akan
dihasilkan, kualitas produk yang diisyaratkan dan peralatan yang tersedia
untuk melaksanakan proses.
1. Jenis proses produksi ditinjau dari segi
wujud proses produksi
a)
Proses produksi kimiawi
Proses
produksi kimiawi merupakan suatu proses produksi yang menitikberatkan kepada
adanya proses analisa atau sintesa serta senyawa kimia. Contoh perusahaan obat-obatan,
perusahaan tambang minyak dan lain-lain.
b)
Proses produksi perubahan bentuk
Proses
perubahan bentuk adalah proses produksi dimana dalam pelaksanaannya
menitikberatkan pada perubahan masukan (input) menjadi keluaran (output)
sehingga didapatkan penambahan manfaat atau faedah dari barang tersebut.
Contohnya perusahaan mebel, perusahaan garmen dan lain-lain.
c)
Proses produksi assembling
Proses
produksi assembling merupakan suatu proses produksi yang dalam pelaksanaan
produksinya lebih mengutamakan pada proses penggabungan dari komponen-komponen
produk dalam perusahaan yang bersangkutan atau membeli komponen produk yang
dibeli dari perusahaan lain. Contohnya perusahaan yang memproduksi peralatan
elektronika, perakitan mobil dan lain sebagainya.
d)
Proses produksi transportasi
Proses
produksi transportasi merupakan suatu proses produksi dengan jalan menciptakan
jasa pemindahan tempat dari barang ataupun manusia. Dengan adanya pemindahan
tempat tersebut maka barang atau manusia yang bersangkutan ini akan mempunyai
kegunaan atau merasakan adanya tambahan manfaat. Contohnya perusahaan kereta
api, perusahaan angkutan dan lain-lain.
e)
Proses produksi penciptaan jasa administrasi
Proses
produksi penciptaan jasa administrasi adalah suatu proses produksi yang
memberikan jasa administrasi kepada perusahaan-perusahaan yang lain atau
lembaga-lembaga yang memerlukannya. Pemberian metode penyusunan, penyimpanan
dan penyajian data serta informasi yang diperlukan oleh masing-masing
perusahaan yang memerlukannya merupakan jasa yang diproduksi oleh
perusahaan-perusahaan semacam ini. Contohnya lembaga konsultan manajemen dan
akuntansi, biro konsultan manajemen, dan lain-lain.
1. Jenis proses produksi ditinjau dari segi arus
proses produksi
a)
Proses produksi terus-menerus.
Proses
produksi terus-menerus adalah proses produksi barang atas dasar aliran produk
dari satu operasi ke operasi berikutnya tanpa penumpukan disuatu titik dalam
proses. Pada umumnya industri yang cocok dengan tipe ini adalah yang memiliki
karakteristik yaitu output direncanakan dalam jumlah besar, variasi atau jenis
produk yang dihasilkan rendah dan produk bersifat standar.
b)
Proses produksi terputus-putus
Produk
diproses dalam kumpulan produk bukan atas dasar aliran terus-menerus dalam
proses produk ini. Perusahaan yang menggunakan tipe ini biasanya terdapat
sekumpulan atau lebih komponen yang akan diproses atau menunggu untuk diproses,
sehingga lebih banyak memerlukan persediaan barang dalam proses.
c)
Proses produksi campuran
Proses
produksi ini merupakan penggabungan dari proses produksi terus-menerus dan
terputus-putus. Penggabungan ini digunakan berdasarkan kenyataan bahwa setiap
perusahaan berusaha untuk memanfaatkan kapasitas secara penuh.
1. Jenis proses produksi ditinjau dari segi
penyelesaian proses produksi
Tujuan
pemisahan proses produksi menurut segi penyelesaian proses ini pada umumnya
untuk mengadakan pengendalian kualitas dari proses produksi di dalam perusahaan
yang bersangkutan. Pada umumnya dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
a)
Proses produksi tipe A
Proses
produksi ini merupakan suatu tipe dari proses produksi dimana dalam setiap
tahap proses produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan dapat diperiksa secara
mudah. Dengan demikian pengendalian proses dapat dilaksanakan pada setiap tahap
proses, sesuai dengan yang dikehendaki oleh manajemen perusahaan yang
bersangkutan.
b)
Proses produksi tipe B
Proses
produksi tipe ini merupakan suatu proses produksi dimana di dalam penyelesaian
proses produksi dalam perusahaan yang bersangkutan akan terdapat beberapa
ketergantungan dari masing-masing tahap proses produksi, pemeriksaan hanya
dapat dilaksanakan pada beberapa tahap tertentu saja. Dengan demikian
pengendalian proses produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan akan terbatas
kepada beberapa tahap proses yang dapat diperiksa secara mudah.
c)
Proses produksi tipe C
Perusahaan
yang penyelesaian produksinya termasuk di dalam kategori proses produksi tipe C
ini adalah perusahaan yang melaksanakan proses penggabungan atau pemasangan
(assembling). Pelaksana proses produksi dalam perusahaan tersebut dilakukan
dengan pemasangan atau penggabungan komponen-komponen produk.
d)
Proses produksi tipe D
Proses
produksi tipe ini merupakan proses produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan
dengan menggunakan mesin dan peralatan produksi otomatis. Mesin dan peralatan
produksi yang dipergunakan dalam perusahaan tersebut dilengkapi dengan beberapa
peralatan khusus untuk melaksanakan pengendalian proses produksi dalam
perusahaan yang bersangkutan.
e)
Proses produksi tipe E
Proses
produksi ini merupakan proses produksi dari perusahaan-perusahaan dagang dan
jasa. Pelaksanaan proses produksi yang agak berbeda dengan
perusahaan-perusahaan semacam ini menjadi agak berbeda dengan beberapa
perusahaan yang melaksanakan processing dalam proses produksi yang dilaksanakan
dalam perusahaan yang bersangkutan.
F. Langkah-langkah Proses Produksi
a. Seleksi proses
Seleksi
proses mencakup semua keputusan mengenai tipe atau jenis proses produksi dan
peralatan tertentu yang digunakan. Keputusan pertama yang harus dilakukan
adalah berkenaan dengan pencarian jawaban atas pertanyaan : dapatkah produk
dibuat? Apakah tersedia teknologi untuk membuat produk yang sedang
dipertimbangkan? Pertanyaan-pertanyaan ini terutama bersangkutan dengan
pemilihan teknologi utama, bukan dengan kelayakan ekonomik. Bila teknologi
telah tersedia, keputusan seleksi proses berikutnya adalah menentukan tipe
proses produktif yang digunakan. Sehingga produksi dapat teroganisir dan tidak
terjadi kerusakan dalam proses produksi. (Handoko,1999:121). Faktor-faktor yang
harus dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan seleksi proses secara ringkas dapat
diperinci sebagai berikut:
1. Kebutuhan modal
Berapa
banyak modal yang dibutuhkan untuk persediaan, mesin-mesin, peralatan dan
fasilitas-fasilitas lainnya? Proses aliran garis biasanya untuk memerlukan
modal lebih besar dari pada aliran intermiten atau proyek.
1.
Kondisi
pasar
Apa
kebutuhan dan keinginan para pelanggan? Apakah perkiraan volume penjualan pada
harga yang direncanakan dapat menghasilkan laba yang diinginkan? Apakah kondisi
persaingan sekarang dan diwaktu yang akan datang menguntungkan?
2.
Tenaga
kerja
Apakah
suplai tenaga kerja mencukupi sesuai dengan kebutuhan suatu jenis proses pada
biaya wajar? Bagaimana prospek tersedianya tenaga kerja diwaktu yang akan
datang?
3.
Bahan
mentah
Apakah
bahan mentah tersedia dalam jumlah yang memadai? Apakah ada perubahan-perubahan
bahan mentah dalam proses produksi?
4.
Teknologi
Perusahaan
harus mempertimbangkan kemajuan teknologi baik untuk proses maupun produk.
Apakah teknologi produk dan proses cukup stabil untuk mendukung proses selama
periode waktu tertentu?
5.
Ketrampilan
manajemen
Dapatkah
perusahaan menguasai dan memelihara tipe ketrampilan-ketrampilan manajemen yang
dibutuhkan? Sebagai contoh, untuk proses intermiten, perusahaan mungkin akan
memerlukan ketrampilan manajemen operasi dalam forecasting, scheduling dan
pengendalian persediaan. (Handoko, 1999: 130-132).
6.
Pemilihan
Teknologi
Teknologi
telah menjadi suatu faktor dominan dalam bisnis dan dalam kehidupan kita.
Kemajuan teknologi mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap manajemen
operasi. Keputusan-keputusan seleksi proses dan pemilihan teknologi berhubungan
sangat erat dan saling berkaitan. Tetapi salah satu keputusan tidak selalu
harus mendahului keputusan yang lain karena dalam praktek kedua keputusan ini
sering dibuat secara bersamaan.
Pemilihan
teknologi mempunyai dampak terhadap semua bagian operasi terutama dalam desain
pekerjaan. Pemilihan teknologi dan desain pekerjaan dipadukan dalam suatu
desain sosioteknikal secara optimum. Disamping itu pemeliharaan teknologi
mempengaruhi seluruh aspek operasi-operasi lainnya, termasuk produktivitas dan
kualitas produk. Keputusa teknologi juga mempengaruhi strategi perusahaan
dengan keterkaitnya pada proses, peralatan, fasilitas dan prosedur yang telah
dipilih. Jadi, pemilihan teknologi bukan merupakan keputusan yang tertutup,
tetapi mempengaruhi semua bagian operasi dan bisnis. Teknologi yang Tersedia
7.
Teknologi
pabrik
Ada
tingkatan teknologi bila diindentifikasikan atas dasar apakah manusia atau
mesin yang menyediakan tenaga dan mengendalikannya. Tingkatan pertama adalah
pekerjaan tangan, dimana manusia merupakan sumber tenaga dan pengendali bagi
alat-alat yang digunakan. Tingkatan kedua adalah pekerjaan mesin, dimana mesin
menyediakan tenaga, tetapi menusia masih harus mengendalikan
peralatan-peralatan. Tingkatan ketiga dimana proses telah diotomatisasikan,
mesin merupakan sumber tanaga dan pengendali. Manusia berfungsi sebagai
pemrogram dan pengawas mesin.
8.
Teknologi
perkantoran
Teknologi
perkantoran telah berkembang sagat pesat dengan ditentukannya mesin-mesin ketik
elektrik, mesin foto-copy elektronik. Teknologi pengolahan kata yang
dikomputerisasikan sekarang menjadi semakin ekonomikal dan akan merubah secara
drastis tata kerja perkantoran.
9.
Industri
jasa
Teknologi
pelayanan atau penyediaan jasa juga semakin otomatik. Dan karena industri jasa
sekarang dipandang lebih sebagai aspek teknikal dari pada humanistik maka
otomatisasi dan standarisasi menjadi mungkin. Hal ini tidak hanya menghasilkan
biaya-biaya yang lebih rendah tetapi juga kualitas yang lebih seragam.
(Handoko,1999:135-138).
10.
Perencanaan
Proses
Perencanaan
adalah fungsi manajemen yang paling pokok dan sangat luas meliputi perkiraan
dan perhitungan mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan pada waktu yang akan
datang mengikuti suatu urutan tertentu. Perencanaan merupakan salah satu sarana
manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan karena itu setiap tingkat
manajemen dalam organisasi sangat membutuhkan aktifitas perencanaan.
Tujuan perencanaan harus tegas, jelas dan mudah dimengerti. Seringkali perencanaan harus mengalami perubahan, oleh karena itu perencanaan harus besifat luwes dan terbuka untuk dapat dirubah bila diperlukan. Sifat luwes ini mengakibatkan pelaksanaan kegiatannya harus dimonitor dan dikendalikan terus menerus yang disesuaikan dengan kondisi yang ada namun perencanaan harus tetap pada tujuan yang ditetapkan
Tujuan perencanaan harus tegas, jelas dan mudah dimengerti. Seringkali perencanaan harus mengalami perubahan, oleh karena itu perencanaan harus besifat luwes dan terbuka untuk dapat dirubah bila diperlukan. Sifat luwes ini mengakibatkan pelaksanaan kegiatannya harus dimonitor dan dikendalikan terus menerus yang disesuaikan dengan kondisi yang ada namun perencanaan harus tetap pada tujuan yang ditetapkan
Perencanaan
juga merupakan fungsi memilih sasaran perusahaan secara kebijaksanaan, program
dan pemilihan langkah-langkah apa yang harus dilakukan, siapa yang melakukan
dan kapan aktivitasnya dilaksanakan. Dalam perencanaan produksi kita selalu
menginginkan agar diperoleh perencanaan produksi yang baik namun merencanakan
proses produksi bukanlah hal yang mudah karena banyaknya faktor yang
mempengaruhinya. Faktor-faktor internal relative mudah dapat dikuasai oleh PPC
manager, namun faktor external tidak demikian. Karena itu perencanaan harus
dibuat ketat namun tidak kaku, artinya dapat dirubah bila diperlukan dan
kemungkinan perubahan ini juga harus diperhitungkan agar tidak menimbulkan
kesulitan. Perencanaan yang baik hanya akan diperoleh dengan didasarkan kepada
informasi yang baik dan pengukuran keberhasilan didasarkan kepada standard yang
ditetapkan.
11.
Unsur-unsur
perencanaan
Perencanaan
adalah suatu hasil pemikiran yang rasional dimana di dalamnya terdapat
dugaan/perkiraan, perhitungan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai pada
masa yang akan datang. Syarat mutlak suatu perencanaan harus mempunyai tujuan
yang jelas dan mudah dimengerti. Perencanaan harus terukur dan mempunyai
standar tertentu. Perencanaan digolongkan sebagai fakta yang Objective
kebenarannya bahwa pemikiran yang rasional itu tidak atas hayalan belaka tetapi
suatu perhitungan berdasarkan data yang objective. Walau perencanaan mengandung
unsur dugaan/pemikiran namun harus didasarkan pada suatu standard yang terukur.
Perencanaan adalah sebagai tahap persiapan/tindakan pendahuluan untuk
melaksanakan kegiatan dengan memperhatikan penyimpangan yang mungkin terjadi
1. Fungsi Perencanaan Produksi
Perencanaan
produksi (Production Planning) adalah salah satu dari berbagai macam bentuk
perencanaan yaitu suatu kegiatan pendahuluan atas proses produksi yang akan
dilaksanakan dalam usaha mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan.
Perencanaan produksi sangat erat kaitannya dengan pengendalian persediaan
sehingga sebagian besar perusahaan manufacture menempatkan fungsi perencanaan
dan pengendalian persediaan dalam satu kesatuan. Ditinjau dari bentuk industri,
perencanaan produksi suatu perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya
terdapat perbedaan. Banyak hal yang menyebabkan perbedaan tersebut, bahkan pada
perusahaan yang sejenis. Tujuan produksi bagi perusahaan adalah barang dengan
spesifikasi tertentu memenuhi permintaan pelanggan. Tujuan tersebut dituangkan
dalam Order Confirmation yang dibuat oleh bagian penjualan. Dengan demikian
dapat disimpulkan tujuan produksi sepenuhnya dirumuskan oleh sales department,
berdasarkan order yang telah diterima. Karena tujuan produksi dirumuskan
berdasarkan order yang telah diterima maka dalam fungsi perencanan produksi
pengaruh forecasting pada sistem perencanaan produksi dapat dikatakan tidak
signifikan.
Untuk
mencapai tujuan, khususnya dalam perencanaan produksi dan pengendalian persediaan
perusahaan perlu menyediakan fasilitas komunikasi dan sistem informasi yang
mendukung sistem pengolahan data terdistribusi. Program aplikasi database
management system yang terintegrasi dengan sistem lainnya di lingkungan
perusahaan sehinngga bagian perencanaan produksi dan pengendalian persediaan
memiliki sarana yang cukup handal yang dapat memberikan informasi yang
dibutuhkan dalam waktu yang relatif singkat. Bagian perencanaan dengan mudah
dapat mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam menyusun perencanaan
produksi. Agar masing-masing fungsi yang terdapat dalam Sistem perencanaan dan
bagian terkait dengan sistem perencanaan produksi dapat menjalankan kerja dan
tanggungjawabnya sesuai dengan sistem, maka setiap personal disyaratkan
mengenal sistem akuntansi komputer dan procedure yang diterapkan. Dengan
demikian efektifitas kerja dapat ditingkatkan.
1. Fungsi Pengendalian Persediaan.
Persediaan
adalah barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual (barang jadi) atau
barang dalam process produksi atau barang yang menunggu penggunaannya dalam
process produksi. Fungsi dasar pengendalian persediaan baik bahan baku, barang
dalam proses maupun barang jadi banyak sekali. Fungsi tersebut meliputi proses
berurutan mulai dari timbulnya kebutuhan, pembelian, pengolahan, delivery.
Permasalahan utama persediaan yang timbul yaitu bagaimana fungsi tersebut dapat
mengatur persediaan sehingga setiap permintaan dapat dilayani akan tetapi biaya
persediaan harus minimum. Bila persediaan cukup banyak, permintaan dapat segera
dilayani akan tetapi menyebabkan biaya penyimpanan barang tersebut akan menjadi
sangat mahal. Dengan memperhatikan hal tersebut diambil keputusan untuk
menentukan nilai persediaan. Menentukan nilai persediaan sangat tergantung
kepada jenis perusahaan, modal kerja dan omzet perusahaan serta lead time untuk
mendapatkan barang tersebut.
1. Biaya Pembelia.
Yang
dimaksud biaya pembelian dalam hal ini adalah biaya pembelian bahan baku untuk
produksi. Pembelian skala besar dapat mengurangi biaya pembelian dengan adanya
potongan harga (quantity discount) yang diberikan Supplier dengan konsekwensi
biaya transportasi yang ditanggung Supplier relative lebih murah karena
pengangkutan barang dilakukan tidak terlalu sering, namun perlu diperhitungkan
apakah potongan harga tersebut lebih kecil dari biaya penyimpanan. Disamping
itu jumlah persediaan yang cukup dapat mempercepat delivery sehingga tidak menimbulkan
kekecewaan pelanggan. Karena jenis perusahaan memproduksi suatu barang sesuai
permintaan pelanggan dimana permintaan tersebut akan dipenuhi pada waktu yang
akan datang, cara pembelian tersebut tidak menguntungkan karena penyimpanan
barang tersebut membutuhkan ruang yang luas dan waktu penyimpanan yang relatif
lama.
1. Biaya Penyimpangan
Biaya
penyimpanan meliputi biaya penyediaan ruang yang diperlukan untuk menampung
barang tersebut, biaya perawatan atas resiko kerusakan, serta biaya tenaga
kerja yang diperlukan untuk merawat dan mengamankan barang tersebut dari segala
macam bentuk gangguan. Selain itu biaya penyimpanan juga berkaitan dengan biaya
bunga dimana semakin besar dana yang dialokasikan pada persediaan akan
mengakibatkan alokasi akan investasi yang lain akan terhambat atau dilakukan
dengan suntikan dana dari kreditur dalam hal ini adalah Bank. Sesuai dengan
sifat perusahaan yang memenuhi permintaan pelanggan pada waktu yang akan datang
maka persediaan bahan baku dasar, tinta spesial yang tidak diperuntukan untuk
order produksi tertentu (bebas) adalah nol. (Achun,2008).
BAB III
KESIMPULAN
1. A. Kesimpulan
Suatu
sistem produktif adalah proses pengubahan masukan-masukan sumber daya menjadi
barang-barang dan jasa . Manajemen operasi dapat juga didefinisikan sebagai
pelaksan kegiatan-kegiatan manajerial yang dibawakan dalam pemilihan,
perancangan, pembaharuan, pengoperasian dan pengawasan sistem produktif.
Pentingnya mempelajari manajemen poduksi adalah topik-topik yang dipelajari
dalam manajemen produksi berkaitan dengan desain, operasi dan pengawasan sisi
penawaran organisasi-organisasi. Proses pembuatan keputusan diawali
dengan perumusan masalah yang dilakukan dengan menguji
hubungan sebab-akibat, mencari penyimpangan-penyimpangan, dan yang paling
penting adalah berkonsultasi dengan pihak lain.
Dapat
disimpulkan, tanpa adanya perencanaan yang matang, pengaturan yang bagus serta
pengawasan akan mengakibatkan jeleknya hasil produksi. Di samping hasil
produksi yang harus bagus kwalitasnya juga harus di pikirkan pula agar jangan
sampai terjadi hasil produksi bagus tapi ongkos yang diperlukan untuk keperluan
itu terlalu besar. Biaya produksi yang terlalu tinggi akan berakibat harga
pokok produksinya menjadi besar dan hal ini akan mengakibatkan tingginya harga
jual produk, sehingga akan tidak terjangkau oleh konsumen. Inilah yang
merupakan tugas dari bagian produksi. Tugas-tugas tersebut akan dapat
terlaksana dengan baik dengan mengacu pada pedoman kerja tertentu. Pedoman
kerja yang harus menjadi arah kerja bagi bagian produksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar