Hari ini rasanya merupakan hari pertumpahan tangisan buat Melodi dirumahnya. Ia ibah terhadap kedua adiknya dan ibunya yang sering disakiti oleh ayahnya. Melodi sendiri sebenarnya sudah acuh dengan keadaan keluarganya tapi ketika ia sendirian ia selalu meneteskan air matanya. Mungkin, sudah lama luka itu dalam hatinya yang tak kunjung pulih.
Melodi sangat terpukul, ia merasa risih dengan teman-temannya seakan-akan masalah keluarganya menjadi cambukan buat hidupnya. Selama ini ia lelah berlepas riya dihadapan teman-temannya. Ia tak pernah menerangkan sedetail mungkin masalahnya, menurutnya belum ada yang pantas untuk dimintai solusi kecuali kepada Sang Maha Kuasa.
"Kak Melodi, Aniya capek kak! Aniya ingin melihat keluarga semasa kecil kita.." Keluhan Aniya kepada Melodi. Sebenarnya Melodi sangat menyayangi keluarganya. Tapi, ia tidak tau menampakkan rasa sayangnya itu.
"Sabar dek, Insya Allah ada jalan keluarnya. Tidurlah sana! Besok kesekolahnya nanti telat" jawabnya memerintah.
Hari-hari yang dilewati Melodi tidak pernah merasakan keindahan dalam hidupnya saat ini. Kecuali, kepada sang Punjaga Hatinya yang dicintainya dalam diam. Melodi merasa bahwa dia adalah sosok Punjaga yang akan membawa kehidupan Melodi lebih berwarnah. Tapi, ia sadar ia bukan wanita yang sempurnah seperti wanita muslimah lainnya. Sedangkan sosok yang ia idamkan sosok dari keluarga yang berbobot dan beragama. Ia selalu merasa minder jika mengingat keadaan keluarganya.
Melodi bahkan bingung. Ia tahu bahwa dosa besar jika kita bersikap ketus kepada orang tua. Tapi, menurut pengetahuannya yang ia telusuri, jika keadaan keluarga hancur dan seorang anak lebih pemarah itu tandanya ia sedang menolak keadaan yang dihadapinya. Ya, itulah yang ia ketahui dari ilmu pisikolog. Melodi selalu berupaya untuk tidak ketus kepada ayah dan ibunya. Tapi, Melodi masih sakit hati dengan keadaanya.
Hari ini adik laki-laki Melodi ingin minggat dari rumah. Adik laki-lakinya itu tak seperti biasanya, adik Melodi Dimas yang periang menjadi pendiam dan lesuh. Melodi, sangat perihatin kepada adiknya itu soalnya dia anak laki-laki satu-satunya. Ia paham dengan keadannya.
"Kak, aku mau kerumah nenek aja. Aku benci dirumah!" Keluhnya tegas.
"Sabarlah dek, jagan seperti itu. Jika kau pergi dari rumah. Malah kau akan membuat masalah yang lebih besar lagi. Ibu dan ayah akan berdebat hebat lagi. Sudahlah kau harus dewasa sekarang kau sudah masuk SMA jangan menyusahkan." Jawabku tegas!
Melodi yang dulunya bagaikan pelangi kini menjadi tak menentu warnahnya. Ia merindukan pelanginya kembali untuk melukis keindahan hidupnya lagi. Hari ini Melodi merasa sangat butuh teman. Melodi merupakan anak tarbiayah. Dan dengan semua pengetahuanya Melodi meninggalkan dunia Remaja yang selalu berpacaran. Kini, ia merasa ingin memiliki pendamping hidup yang akan mewarnai hidupnya dan memecahkan masalahnya bersama-sama. Tapi, Melodi masih kelas XII ia harus fokus untuk UN-nya lagian. Jika, menikah mungkin tak ada yang ingin bersamanya jika mengetahui keadaan keluarnya dan ia juga ingin mewujudkan segera cita-citanya menjadi pengusaha sukses.
Kini, ia harus menacari solusi untuk keluarganya! Ia harus menyelesaikan semuanya sebelum terlambat.
*tunggu episode selanjutnya yah:D*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar